<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319</id><updated>2011-04-21T16:16:48.679-07:00</updated><title type='text'>RAHZAMGHANZOH</title><subtitle type='html'>BLOGNYA ORANG BENGKULU ASLI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-4627028496638133860</id><published>2009-03-30T23:31:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T23:33:13.039-07:00</updated><title type='text'>AYAT-AYAT DI SITU GINTUNG</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Tatkala  semua rumah hanyut terseret air bah dalam musibah jebolnya Situ Gintung, Masjid  Jabal Rahmah tetap berdiri kokoh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Hidayatullah.com--&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Air mengalir deras akibat jebolnya  tanggul Situ Gintung, Tangerang Selatan, &lt;/span&gt;&lt;img title="Masjid Jabal Rahmah" alt="Masjid Jabal Rahmah" src="/images/stories/masjidgintung_thumb.jpg" align="right" border="0" height="205" width="300" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Banten, Jumat (27/3)  Subuh. Banjir bandang itu membuat ratusan rumah hanyut dan terhempas, termasuk  sekitar 100 jiwa tewas akibat terbawa aliran air dengan kecepatan 600 kilometer  perjam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Akibat jebolnya tanggul  tersebut, kawasan Situ Gintung seperti Tangerang Selatan dan sebagian wilayah  Jakarta Selatan, porakporanda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Namun ditengah terpaan air itu,  tampak di tengah permukiman warga berdiri kokoh sebuah masjid yang dibangun  setahun silam. Padahal masjid bernama Jabal Rahmah itu juga ikut terkena  hantaman air bah dari Situ Gintung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Bangunan megah dengan cat warna  kuning telur beratapkan seng dari hasil swadaya masyarakat setempat itu tak  ambruk. Meskipun beberapa dinding, pinggiran lantai masjid pecah; namun bangunan  masjid yang tak jauh dari tanggul Situ Gintung itu, masih berdiri  kokoh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Semua peralatan masjid hanyut  terbawa air. Lantai masjid tertutup oleh lumpur, kata Husin, seorang warga di  sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Menurut Husin, Masjid Jabal  Rahmah dengan luas 150 M2 merupakan kebanggaan warga Muslim yang bermukim di  kawasan Situ Gintung. Banyak kegiatan ke-Islama-an diadakan di masjid tersebut.  Bahkan kegiatan remaja-remaja di kawasan Situ Gintung hampir setiap minggu  diselenggarakan dengan mendatangkan seorang penceramah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Kemarin, warga sekitar Situ  Gintung ikut serta membersihkan masjid yang sejak peristiwa itu terjadi,  sebagian tertutup oleh lumpur. Tim SAR ikut pula membantu dengan melakukan  pembersihan tembok-tembok masjid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Air bah yang datang itu, setelah  masjid itu mengumandangkan adzan Subuh. Setelah adzan Subuh usai, baru air itu  tumpah ruah ke permukiman warga termasuk menghantam Masjid Jabal Rahmah, tutur  Arif Sugiono, seorang Pengurus Remaja Masjid Jabal Rahmah kepada Pelita,  kemarin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Anehnya, katanya, masjid itu tak  mengalami kerusakan berarti. Tiang-tiang penyanggah masjid masih kokoh berdiri  menopang sosok bangunan masjid itu. Ini adalah mukzijat dari Allah SWT,  paparnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Sejak keberadaan masjid itu,  paparnya, hampir setiap malam atau malam Jumat diadakan pengajian bersama untuk  memperkokoh silaturahmi antar-warga. Anak remaja atau anak muda di kawasan Situ  Gintung kerap memanfaatkan masjid itu sebagai ajang persabahatan dengan kegiatan  mengaji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Apalagi bila memasuki bulan  Ramadhan, suasana setiap malam pasti semarak oleh berbagai kegiatan pengajian  dan ceramah setengah jam, lalu diteruskan ke waktu sahur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Bahkan ketika suara adzan masjid  menggema pada saat Subuh, kata Nurhafid, seorang tokoh masyarakat di sana; bagai  mendengar sebuah nyanyian kemudian membangunkan warga untuk bersiap melakukan  sholat Subuh dan beraktifitas lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Tetapi gema adzan dari Masjid  Jabal Rahmah itu untuk sementara terhenti. Menurut rencana masjid itu akan  diperbaiki dengan meminta bantuan dari pemerintah daerah dan pusat. Namun  meskipun kondisi Masjid Jabal Rahmah itu kotor, tapi warga Situ Gintung masih  menggantungkan harapannya untuk bisa menunaikan ibadah di masjid itu.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Masjid  Aceh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="/images/stories/masjidaceh.JPG" align="left" border="0" height="198" width="300" /&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Sebelum ini, saat badai  tsunami menghantam Aceh, kasus serupa juga terjadi. Di saat ribuan orang dan  rumah diseret ombak, beberapa masjid nampak tegar berdiri. Masjid Al-Hidayah,  &lt;span&gt; &lt;/span&gt;di pinggir jalan Meulaboh-Banda Aceh terlihat tegar. Gempa 8,9  skala richter dan kedahsyatan tsunami tak mampu menggeser bangunan tersebut.  &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Bahkan saat tsunami, rumah Allah ini menjadi tempat berlindung  sekitar 300 warga. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Selain itu ada juga Masjid  Al-Ikhlas, Kampung Lang Kruet, Lhok Nga.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Juga masjid  Baiturrahim di Ulee Lheue, Banda Aceh, Masjid Baiturrahman dan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;masjid Ba'abul Jannah di Ujung Karang,  Meulaboh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: 'Georgia','serif';"&gt;Yang lebih fantastis adalah  bangunan masjid Rahmatullah yang berada Kampung Lhoknga, Kecamatan Aceh Besar.  Masjid dengan tiga kubah yang didirikan pada 12 September 1997 itu, ternyata  mampu bertahan meski sudah digelontor amukan gelombang tsunami yang sungguh  dahsyat. Karena letaknya di tengah lembah dan dikala seluruh bangunan yang ada  disekitarnya rebah, masjid bercat putih ini bila dipandang dari kejauhan tampak  mengapung ke udara. &lt;em&gt;[plt/cha/&lt;a href="/" included="null"&gt;www.hidayatullah.com&lt;/a&gt;]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-4627028496638133860?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/4627028496638133860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=4627028496638133860' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4627028496638133860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4627028496638133860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2009/03/ayat-ayat-di-situ-gintung.html' title='AYAT-AYAT DI SITU GINTUNG'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-213559832460529128</id><published>2008-12-05T00:41:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T00:42:46.341-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 130%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi: identitas mata pelajaran, kompetensi dasar dan indikator, materi pokok, langkah kegiatan, alat dan media, dan penilaian. Dalam pengimplementasian pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru dituntut menyusun RPP. RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. Karena itu, RPP harus memuat: tujuan pembelajaran,materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian.&lt;br /&gt;Semangat dari diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah agar siswa belajar secara aktif. Pengembangan kompetensi peserta didik perlu disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Para guru dituntut lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran sehingga memungkinkan siswa dapat berekspresi melalui kegiatan-berbagai kegiatan yang nyata, yang menyenangkan, dan yang mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal. Hanya dengan cara yang demikian, hakikat dari kehadiran seorang guru benar-benar dirasakan oleh setiap peserta didik. Apalagi- sebagaimana dikatakan Prof. Don Elly (Ahli teknologi pembelajaran dari Universitas Syracius, A.S.)- kehadiran guru adalah kesempurnaan dalam proses belajar yang tak akan tergantikan oleh media apapun.&lt;br /&gt;Modul pelatihan ini diharapkan dapat membantu memperluas wawasan para guru yang mengikuti Pendidikan dan Latihan dalam mengimplementasikan pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (M.I.) dengan berpedoman pada KTSP. Mengigat dalam Standar Isi (SI) dari KTSP hanya disebutkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, maka di dalam penyusunan KTSP, guru dituntut untuk secara mandiri mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai indikator yang operasional dan kreatif sehingga dapat mendorong pengalaman belajar siswa menjadi bermakna. Modul ini memberikan arah dalam mengembangkan RPP supaya perencanaan pembelajaran bisa sesuai dengan tuntutan pendidikan yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;B. Penyusunan Rencana Pelakasanaan Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun recana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:&lt;br /&gt;1. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialaokasikan).&lt;br /&gt;2. Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan (ini tidak harus dimasukkan dalam RPP karena pada dasarnya sudah ada di silabus)&lt;br /&gt;3. Tujuan pembelajaran. Tujuan dapat diperoleh dari atau didasarkan pada kompetensi dasar atau indikator.&lt;br /&gt;4. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.&lt;br /&gt;5. Langkah kegiatan. Ini merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran atau pengalaman belajar yang ada di silabus.&lt;br /&gt;6. Alat dan media yang digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajara dalam rangka mencapai tujuan.&lt;br /&gt;7. Penilaian.menyebutkan prosedur dan instrumen penilaian untuk mengetahui kemajuan dalam mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;C. Langkah-langkah penyusunan RPP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mencantumkan identitas&lt;br /&gt;· Nama sekolah&lt;br /&gt;· Mata Pelajaran&lt;br /&gt;· Kelas/Semester&lt;br /&gt;· Standar Kompetensi&lt;br /&gt;· Kompetensi Dasar&lt;br /&gt;· Indikator&lt;br /&gt;· Alokasi Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;· RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.&lt;br /&gt;· Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan&lt;br /&gt;· Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.&lt;br /&gt;3. Mencantumkan Materi Pembelajaran&lt;br /&gt;Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mencantumkan Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran&lt;br /&gt;Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan tetapi, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mencantumkan Sumber Belajar&lt;br /&gt;Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mencantumkan Penilaian&lt;br /&gt;Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat ituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;D. Contoh Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;(RPP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.I. : ........................................................................&lt;br /&gt;Mata Pelajaran : ........................................................................&lt;br /&gt;Kelas/Semester : ........................................................................&lt;br /&gt;Standar Kompetensi : ........................................................................&lt;br /&gt;Kompetensi Dasar : ........................................................................&lt;br /&gt;Indikator : ........................................................................&lt;br /&gt;Alokasi Waktu : ......... x menit (….......... pertemuan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Tujuan Pembelajaran :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;II. Materi Pembelajaran :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;III. Metode Pembelajaran :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;IV. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;Pertemuan 1&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;Pertemuan 2&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;dst&lt;br /&gt;V. Sumber Belajar :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;VI. Penilaian :&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;.......................................................................................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;E. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;1. Tahapan kegiatan&lt;br /&gt;Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit). Alokasi waktu disesuaikan dengan bobot kompetensi dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kegiatan Awal&lt;br /&gt;Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa memfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran denagn baik. Sifat dari kegiatan awal adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani dan menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kegiatan Inti&lt;br /&gt;Kegiatan ini difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perseorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kegiatan Akhir&lt;br /&gt;Fungsi kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantonim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;2. Contoh RPP Tematik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )&lt;br /&gt;( TEMATIK )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas/ Semester : II/ I&lt;br /&gt;Tema : Diri Sendiri&lt;br /&gt;Alokasi Waktu : 1 Minggu&lt;br /&gt;Pertemuan Ke : Minggu ke 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Standar Kompetensi&lt;br /&gt;1. PKn&lt;br /&gt;- Kemampuan membiasakan hidup bergotong royong.&lt;br /&gt;2. B. Indonesia&lt;br /&gt;Mendengarkan :&lt;br /&gt;- Kemampuan memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan.&lt;br /&gt;Berbicara :&lt;br /&gt;- Mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman secara lisan melalui kegiatan bertanya, bercerita dan deklamasi.&lt;br /&gt;Membaca :&lt;br /&gt;- Kemampuan memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi.&lt;br /&gt;Menulis :&lt;br /&gt;- Kemampuan menulis permulaan melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte.&lt;br /&gt;3. IPS&lt;br /&gt;- Kemampuan memahami peristiwa penting dalam keluarga secara kronologi.&lt;br /&gt;4. IPA&lt;br /&gt;- Kemampuan mengenal bagian-bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan, serta berbagai tempat hidup makhluk hidup.&lt;br /&gt;5. Matematika&lt;br /&gt;- Kemampuan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500.&lt;br /&gt;6. Seni Budaya dan Keterampilan&lt;br /&gt;- Mengapresiasi karya seni rupa (S. Rupa).&lt;br /&gt;- Mengapresiasi karya seni musik (S. Musik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Kompetensi Dasar&lt;br /&gt;1. PKn&lt;br /&gt;- Kemampuan mengenal pentingnya hidup rukun saling berbagi dan tolong menolong.&lt;br /&gt;2. B. Indonesia&lt;br /&gt;Mendengar :&lt;br /&gt;- Kemampuan menyebutkan kembali dengan kata-kata atau hal sendiri isi teks pendek.&lt;br /&gt;Berbicara :&lt;br /&gt;- Kemampuan bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan satuan berbahasa.&lt;br /&gt;Membaca :&lt;br /&gt;- Kemampuan menyimpulkan isi teks pendek (5-10 kalimat) yang dibaca dengan membaca lancar.&lt;br /&gt;Menulis :&lt;br /&gt;- Kemampuan melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;3. IPS&lt;br /&gt;- Kemampuan memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.&lt;br /&gt;4. IPA&lt;br /&gt;- Kemampuan mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.&lt;br /&gt;5. Matematika&lt;br /&gt;- Kemampuan membandingkan bilangan sampai 500.&lt;br /&gt;6. Seni Budaya dan Keterampilan&lt;br /&gt;Seni Rupa : Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa.&lt;br /&gt;Seni Musik : Mengidentifikasi unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan oleh benda bukan alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Indikator&lt;br /&gt;1. PKn&lt;br /&gt;- Memahami arti hidup rukun, saling berbagi dan tolong menolong dalam keluarga dan lingkungan tetangga.&lt;br /&gt;2. B. Indonesia&lt;br /&gt;Mendengarkan :&lt;br /&gt;- Menjawab pertanyaan sesuai isi cerita yang didengarkan.&lt;br /&gt;Berbicara :&lt;br /&gt;- Menggunakan kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu kepada orang yang belum dikenal dengan pilihan kata yang tepat.&lt;br /&gt;Membaca :&lt;br /&gt;- Membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis :&lt;br /&gt;- Melengkapi cerita tentang data diri dan keluarga dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;3. IPS&lt;br /&gt;- Menunjukkan dokumen diri dan keluarga.&lt;br /&gt;4. IPA&lt;br /&gt;- Membuat daftar bagian-bagian utama tubuh hewan di sekitar rumah dan sekolah serta kegunaannya dari hasil pengamatan.&lt;br /&gt;5. Matematika&lt;br /&gt;- Membilang secara urut.&lt;br /&gt;- Menyebutkan banyak benda.&lt;br /&gt;6. Seni Budaya dan Keterampilan&lt;br /&gt;Seni Rupa : Mengelompokkan berbagai jenis bidang tekstur dan bentuk ritme keseimbang kesatuan.&lt;br /&gt;Seni Musik : Menentukan sumber bunyi&lt;br /&gt;Membedakan kuat dan lemahnya bunyi dengan gerakan dan tepukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt;- Siswa dapat menjalani hidup rukun dengan teman sekelas saling berbagi dan tolong menolong.&lt;br /&gt;- Siswa dapat menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek yang telah dibaca.&lt;br /&gt;- Siswa dapat bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.&lt;br /&gt;- Siswa dapat menyimpulkan isi teks pendek (5-10 kalimat) kemudian dibacakan.&lt;br /&gt;- Siswa dapat melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;- Siswa dapat memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.&lt;br /&gt;- Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah.&lt;br /&gt;- Membandingkan bilangan sampai 500.&lt;br /&gt;- Mengenal unsur rupa pada karya seni rupa.&lt;br /&gt;- Menyebutkan unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan oleh benda bukan alat musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Materi Ajar/ Materi Pokok&lt;br /&gt;- Pentingnya hidup rukun saling berbagi dan tolong menolong.&lt;br /&gt;- Bacaan teks pendek, anak membaca dan mengungkapkan kembali isi bacaan dengan kalimat sendiri.&lt;br /&gt;- Kata tanya, apa, siapa, di mana&lt;br /&gt;- Bacaan teks pendek (5-10 kalimat) anak menyimpulkan isi teks tersebut.&lt;br /&gt;- Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.&lt;br /&gt;- Dokumen diri : akte keluarga, KTP, kartu keluarga dan koleksi benda berharga.&lt;br /&gt;- Bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan yang ada di lingkungan rumah dan sekolah.&lt;br /&gt;- Operasi hitung bilangan.&lt;br /&gt;- Keragaman aneka unsur rupa dan unsur musik.&lt;br /&gt;VI. Metode Pembelajaran&lt;br /&gt;Ceramah, tanya jawab, demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Langkah-Langkah Pembelajaran&lt;br /&gt;Kegiatan Awal&lt;br /&gt;- Mengucapkan salam dan berdoa bersama.&lt;br /&gt;- Menyanyi bersama lagu “Anak kambing saya” dan “Naik-naik ke puncak gunung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Inti&lt;br /&gt;- Siswa menyanyi lagu anak kambing saya dan naik-naik ke puncak gunung sambil diiringi tepuk tangan.&lt;br /&gt;- Siswa mempraktekkan kerjasama dan tolong menolong dalam satu kelas (lingkungan kecil).&lt;br /&gt;- Siswa menjawab pertanyaan dari guru sesuai isi cerita yang didengarkan.&lt;br /&gt;- Siswa menggunakan kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu.&lt;br /&gt;- Siswa membaca teks cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat.&lt;br /&gt;- Siswa menulis pengalaman pribadi ke depan kelas.&lt;br /&gt;- Siswa menjelaskan pentingnya memelihara dokumen dan koleksi barang keluarga.&lt;br /&gt;- Siswa menyebutkan bagian-bagian utama tubuh hewan di sekitar rumah dan sekolah serta kegunaannya.&lt;br /&gt;- Siswa menghitung secara urut sampai 500.&lt;br /&gt;- Siswa menyebutkan banyak benda (lebih sedikit, lebih besar atau sama dengan kumpulan lain).&lt;br /&gt;- Siswa membuat gambar sesuai dengan illustrasinya dari berbagai jenis bidang dan tekstur.&lt;br /&gt;- Siswa menyanyikan sebuah lagu “Lihat kebunku” dengan diiringi sumber bunyi gelas dan sendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Akhir&lt;br /&gt;- Tanya jawab tentang materi yang telah diajarkan.&lt;br /&gt;- Menyanyikan lagu “Naik-naik ke puncak gunung”.&lt;br /&gt;- Pemberian PR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. Alat dan Sumber&lt;br /&gt;Alat : - Benda-benda di sekitar.&lt;br /&gt;- Macam-macam dokumen diri (KTP, akte kelahiran).&lt;br /&gt;- Gambar hewan dan bagian-bagiannya serta kegunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX. Penilaian&lt;br /&gt;- Lembar kerja.&lt;br /&gt;- Pengamatan.&lt;br /&gt;- Tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;3. Contoh Berbasis CTL&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS ACTIVE LEARNING/CTL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah : MTs Miftahul Huda&lt;br /&gt;Mata pelajaran : Fiqih&lt;br /&gt;Kelas/ Semester : VIII/Gasal&lt;br /&gt;Pertemuan ke : I&lt;br /&gt;Alokasi waktu : 2 X 40 menit&lt;br /&gt;Standar kompetensi : ........................&lt;br /&gt;Kompetensi dasar : ........................&lt;br /&gt;Indikator : ........................&lt;br /&gt;Tujuan : ........................&lt;br /&gt;Pokok-pokok Materi : ......................&lt;br /&gt;Metode : .......................&lt;br /&gt;Media/Alat/Bahan/Sumber: .........&lt;br /&gt;Alat Evaluasi : .......................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Skenario Pembelajaran Model Jigsaw, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;1. Materi yang dipilih adalah zakat hewan ternak zakat perdagangan (tijaroh), zakat pertanian (hasil bumi), zakat emas dan perak.&lt;br /&gt;2. Siswa dibagi ke dalam 4 kelompok besar&lt;br /&gt;3. Pembagian kelompok berdasarkan nomor urut absensi. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang&lt;br /&gt;4. Setiap kelompok bertugas berbaca dan memahami materi yang ada dalam buku panduan Mata Pelajaran&lt;br /&gt;5. Setiap kelompok melakukan diskusi kecil dan merangkum hasil diskusi&lt;br /&gt;6. Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi kecil kelompoknya kepada kelompok lain melalui salah satu anggotanya yang dikirim pada diskusi kecil antar kelompok.&lt;br /&gt;Setelah melalui proses zig zag dan masing-masing siswa terlihat dalam diskusi kecil antar kelompok, hasil dari diskusi kelompk tersebut disampaikan kepada masing-masing teman sekelompoknya.&lt;br /&gt;7. Kembalikan seperti semula dalam kelompok besar untuk mengulas lagi seandainya ada masalah yang belum terpecahkan&lt;br /&gt;8. Guru melempar beberapa pertanyaan untuk penjajagan pemahaman materi&lt;br /&gt;9. Refleksi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-213559832460529128?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/213559832460529128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=213559832460529128' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/213559832460529128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/213559832460529128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2008/12/rencana-pelaksanaan-pembelajaran-rpp.html' title=''/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-2602782626475690301</id><published>2008-01-25T06:02:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T06:04:41.145-08:00</updated><title type='text'>NISN MURIDKU</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Daftar Siswa&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;NIS&lt;br /&gt;Nama Siswa&lt;br /&gt;Tingkat&lt;br /&gt;Detail&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;9893234493&lt;br /&gt;IJE SUMANTRI&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;9893234495&lt;br /&gt;NAZMUN NAZARA&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;9893234497&lt;br /&gt;RAHMAN BERASA&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;9893234498&lt;br /&gt;MUHAMMAD ALIMUN&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;9904495234&lt;br /&gt;MUHAMMAD SAIFUL&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;9904495235&lt;br /&gt;IMRAN BERUTU&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;9904495242&lt;br /&gt;J. HARIANTO SOLIN&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;9904495243&lt;br /&gt;TRUSNO SOLIN&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;9904495244&lt;br /&gt;ISMAIL&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;9915378012&lt;br /&gt;RAMADHAN ARIGA&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;9915378013&lt;br /&gt;WAHYUDI BANGUN&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;9915378014&lt;br /&gt;AFERIZAL SEMBIRING&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;9915378019&lt;br /&gt;MUHAMMAD MUKHTAR&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;9915378020&lt;br /&gt;DEDI PRAYETNO&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;9926778841&lt;br /&gt;ALI IMRON PASARIBU&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;9926778842&lt;br /&gt;TAUFIK KEMAL&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;9926778843&lt;br /&gt;MUHAMMAD MAZLAN LUTFI&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;9926778844&lt;br /&gt;ULIL ALBAB HABIBULLAH LUBIS&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;9926778845&lt;br /&gt;ZUL IRFAN MENDROFA&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;9926778846&lt;br /&gt;BENY SAHPUTRA S. PELAWI&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;9926778847&lt;br /&gt;MUHAMMAD WALID HUSAINI&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;9926778848&lt;br /&gt;ALI KAMSAH KUDADIRI&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;9926778849&lt;br /&gt;SYAHRIL AMRI&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;9937234040&lt;br /&gt;ZULKIFLI&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;9937234041&lt;br /&gt;SULAIMAN&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;9893234491&lt;br /&gt;DEDEK SUHENDRA&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;9893234492&lt;br /&gt;RADEN SILALAHI&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;9893234496&lt;br /&gt;ZEKY MUHARAM&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;29&lt;br /&gt;9893234499&lt;br /&gt;SADDAM HUSEIN NASUTION&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;9904495238&lt;br /&gt;RAHMAD HIDAYAT&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;31&lt;br /&gt;9904495240&lt;br /&gt;BIRO BANCIN&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;32&lt;br /&gt;9904495245&lt;br /&gt;AIMANSYAH GULO&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;33&lt;br /&gt;9904495247&lt;br /&gt;IMAM MUHAYIN&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;34&lt;br /&gt;9904495248&lt;br /&gt;JOKOWANDIRO BARUS&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;9904495249&lt;br /&gt;ALI RASIDIN BERUTU&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;36&lt;br /&gt;9904495250&lt;br /&gt;ONA SATRIA&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;37&lt;br /&gt;9904495251&lt;br /&gt;SUCIPTA PASARIBU&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;38&lt;br /&gt;9915378015&lt;br /&gt;CHANDRA SIGALINGGING&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;39&lt;br /&gt;9915378016&lt;br /&gt;JUMIANTO BANGUN&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;9915378017&lt;br /&gt;DAUD RASYID ALBARR&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;41&lt;br /&gt;9915378018&lt;br /&gt;MUHAMMAD SUBHAN&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;42&lt;br /&gt;9870354883&lt;br /&gt;BAKHTIAR IS&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;43&lt;br /&gt;9881277757&lt;br /&gt;ILHAM LUBIS&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;44&lt;br /&gt;9881277758&lt;br /&gt;BASRI BERUTU&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;9893234494&lt;br /&gt;BOHARI MUSLIM BERUTU&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;46&lt;br /&gt;9904495236&lt;br /&gt;FAHRIZAL TAUFIK BUAYA&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;47&lt;br /&gt;9904495237&lt;br /&gt;MUHAMMAD SAIDINA HAMZAH&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;48&lt;br /&gt;9904495239&lt;br /&gt;KHAIDIR LIMBONG&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;49&lt;br /&gt;9904495241&lt;br /&gt;SAKTI SITUMORANG&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;9904495246&lt;br /&gt;ANDRE PRADANA&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:csubmit("&gt;Detail&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-2602782626475690301?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/2602782626475690301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=2602782626475690301' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/2602782626475690301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/2602782626475690301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2008/01/nisn-muridku.html' title='NISN MURIDKU'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-6266730775316852420</id><published>2007-07-06T19:24:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:46.134-08:00</updated><title type='text'>Sikap Duduk Cerminkan Sifat Cowok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Ro75zyxKaaI/AAAAAAAAADg/p9Hxb_X19y0/s1600-h/060630_binLaden_vmed.widec.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Ro75zyxKaaI/AAAAAAAAADg/p9Hxb_X19y0/s400/060630_binLaden_vmed.widec.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5084275697544489378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Nggak bisa dipungkiri kalau sikap dan kebiasaan seseorang mencerminkan wataknya. Nggak terkecuali sikap duduk. Nah, pengin tahu gimana karakter gebetanmu atau pacarmu sekarang? &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Coba aja intip dari cara duduknya. Siapa tahu, kamu bisa lebih dekat dengan pasanganmu setelah ini. Check this out! (bor/bs)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aktif dan Agresif&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Duduk agak santai dan ringan di bagian depan kursi&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Punya pendirian teguh dan memiliki kemauan keras. Sifatnya nggak mudah putus asa, pikiran realistis, selalu aktif, dan agresif. Pokoknya, dia selalu cari kesibukan karena nggak suka berdiam diri. Biasanya tipikal cowok seperti ini sangat cocok bertugas di bidang marketing atau pemasaran.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sulit Dipahami&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Duduk agak dalam di kursi dengan kaki terbuka&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menunjukkan bahwa cowok ini senang bergaul, banyak teman, suka membantu orang yang sedang susah. Dia sangat mudah didekati tapi sulit dipahami pemikirannya. Terkadang dia bisa sangat simpatik dan baik hati. Tapi di waktu lain, dia bisa menjadi pribadi yang sangat keras dan njengkelin.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kreatif dan Boros&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Duduk dengan kaki kanan menyilang di atas kaki kiri&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cowok yang satu ini selalu memperhatikan pandangan orang sekitar terhadap dirinya. Sifatnya mudah tegang, sensitif, dan boros. Kehidupannya cenderung selalu meriah serta bervariasi. Dalam pekerjaan, cowok ini sangat kreatif. Jika tujuannya udah mantap dan memang menguntungkan, dia akan memperjuangkannya dengan gigih hingga tuntas dan sukses.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mau Belajar&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Duduk dengan kaki kiri menyilang di atas kaki kanan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pengetahuannya luas. Selalu hati-hati, teliti, dan mantap. Segala sesuatu yang baik dan bermanfaat akan diselesaikan dengan baik. Dia juga senang menerima kritik dan saran dari orang lain yang lebih berpengalaman. Dalam bidang pekerjaan atau bisnis, dia selalu berusaha kreatif untuk menciptakan sesuatu yang baru.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Nggak Bisa Sendiri&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Duduk dengan merapatkan kedua lutut&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Agak lambat, kurang bersemangat, dan pasif, sehingga keuangannya lemah. Cita-cita dan kemauannya memang banyak dan tinggi, tapi nggak realistis dan terlalu banyak mengkhayal. Sering hanya mengandalkan dukungan orang terdekat dan tidak suka dengan suasana yang sepi. Mereka lebih suka suasana yang penuh tawa dan ramai.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Main Aman&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Duduk dengan kedua kaki dirapatkan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Prioritasnya adalah keamanan. Apa pun selalu dikerjakan dengan sangat teliti. Sangat pandai mengatur waktu dan mencari peluang yang tepat untuk mencari keuntungan dalam hal apa pun. Tapi dengan cara yang benar, bukan cara yang licik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sulit Memberontak&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Duduk dengan posisi yang berubah-ubah&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cenderung punya emosi yang labil. Mereka selalu merasa bahwa banyak hal nggak sejalan dengan keinginan atau kemauannya. Sayang, cowok jenis ini nggak berdaya untuk memprotes ataupun menolak. Biasanya mereka hanya memendam kejengkelan dan kekesalan dalam hati. Akibatnya, perasaan gelisah jadi sering muncul.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-6266730775316852420?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/6266730775316852420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=6266730775316852420' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/6266730775316852420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/6266730775316852420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/07/sikap-duduk-cerminkan-sifat-cowok.html' title='Sikap Duduk Cerminkan Sifat Cowok'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Ro75zyxKaaI/AAAAAAAAADg/p9Hxb_X19y0/s72-c/060630_binLaden_vmed.widec.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-4875164880517933475</id><published>2007-06-15T19:53:00.002-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:46.284-08:00</updated><title type='text'>Statistik Pornografi di Internet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RnNZXkEDk1I/AAAAAAAAACo/fQ7HzzCGS-k/s1600-h/DSC00624.JPG"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RnNZXkEDk1I/AAAAAAAAACo/fQ7HzzCGS-k/s400/DSC00624.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076499466329232210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Percaya nggak percaya, diakses dari majalah online Good Magazine&lt;br/&gt;· 12% situs di dunia ini mengandung pornografi.&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;· 25% yang dicari melalui search engine adalah pornografi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· 35% dari data yang diunduh dari internet adalah pornografi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Setiap detiknya 28.258 pengguna internet melihat pornogafi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Setiap detiknya $89.00 dihabiskan untuk pornografi di internet.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Setiap harinya 266 situs porno baru muncul.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Kata “sex” adalah kata yang paling banyak dicari di internet.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Pendapatan US dari pornografi di internet tahun 2006 mencapai $2.84 milyar.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Pengguna pornografi di internet 72% pria dan 28% wanita.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· 70% traffic pornografi internet terjadi pada hari kerja jam 9.00 – 17.00.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Diperkirakan kini ada 372 juta halaman website pornografi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Website pornografi diproduksi 3% oleh Inggris, 4% oleh Jerman, dan 89% oleh US.&lt;br/&gt;· Website pornografi yang traffic-nya paling tinggi: AdultFriendFinder, menduduki peringkat ke-49 dengan 7.2 juta pengunjung.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;· Negara-negara yang melarang pornografi: Saudi Arabia, Iran, Bahrain, Mesir, Uni Emirat Arab, Kuwait, Malaysia, Indonesia, Singapura, Kenya, India, Kuba, dan Cina.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-4875164880517933475?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/4875164880517933475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=4875164880517933475' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4875164880517933475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4875164880517933475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/statistik-pornografi-di-internet.html' title='Statistik Pornografi di Internet'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RnNZXkEDk1I/AAAAAAAAACo/fQ7HzzCGS-k/s72-c/DSC00624.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-1668549507373830367</id><published>2007-06-15T19:53:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:46.382-08:00</updated><title type='text'>Komunikasi Efektif dalam Tim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RnNTnkEDk0I/AAAAAAAAACg/tmLgPUH4IcM/s1600-h/rahman.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RnNTnkEDk0I/AAAAAAAAACg/tmLgPUH4IcM/s400/rahman.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076493144137372482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;Salah satu komponen penting dalam membangun sebuah teamwork yang baik adalah adanya komunikasi yang efektif dalam tim tersebut &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Komunikasi dapat memperkuat ataupun memperlemah bahkan menghancurkan sebuah tim. Good communication can build up a team, bad one can break it. Komunikasi yang baik dapat membangun kekuatan sebuah tim, sedangkan komunikasi yang buruk dapat menghancurkannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berikut adalah artikel mengenai komunikasi efektif dalam sebuah tim, yang ditulis oleh Jimmy Sentoso, mahasiswa peserta mata kuliah People Skill II program Magister Management Universitas Bina Nusantara.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Tentu kita sudah sering mendengar semboyan tersebut di telinga kita. Semboyan ini merupakan salah satu semboyan dalam perjuangan bangsa kita dalam perang untuk merebut kemerdekaan. Hal ini dapat kita lihat secara nyata dalam contoh sebuah sapu lidi. Batang yang digunakan untuk membuat sapu lidi teramat tipis dan rapuh. Seorang anak berusia lima tahun pun dapat mematahkannya dengan mudah. Tetapi apa yang terjadi apabila kita menyatukan batang lidi yang teramat tipis dan rapuh tersebut menjadi sebuah sapu lidi? Jangankan seorang anak kecil yang berusia lima tahun, orang dewasa yang telah berusia dua puluh tahun pun tidak dapat mematahkannya walau ia menggunakan seluruh tenaganya. Begitu pula yang akan terjadi apabila kita bekerjasama dalam sebuah tim. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebenarnya, setiap orang di planet ini terlibat atau melibatkan diri dalam pembangunan tim. Oleh karena itu, kita dirancang untuk berfungsi dalam jalinan dan hubungan saling ketergantungan dengan orang lain. Hal ini tidak terlepas dari sifat manusia yang merupakan makhluk sosial, yang harus berinteraksi dengan sesamanya untuk dapat hidup dengan baik. Sebuah perusahaan merupakan kerjasama dari tim. Sebuah klub sepak bola merupakan hasil kerjasama sebuah tim. Bahkan untuk hal-hal yang bersifat individual pun tetap memerlukan sebuah tim untuk dapat berfungsi secara baik. Sebagai contoh dapat kita lihat pada olahraga perseorangan seperti olah raga tinju, lari, golf maupun catur. Kita tidak dapat berhasil mencapai suatu kesuksesan dalam olah raga tersebut tanpa adanya kerjasama. Seorang atlet tinju, lari, golf, dan olah raga individu lainnya tetap membutuhkan pelatih, manajer, maupun para pendukungnya untuk saling bekerjasama dalam mencapai sukses. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kapan dan di mana pun orang bersama-sama atau berada dalam kebersamaan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, itulah sebuah tim. Prioritas utama sebuah tim apapun adalah untuk belajar berfungsi seefektif dan semulus-mulusnya sehingga secara individu dan bersama-sama, anggota tim itu dapat meraih sasaran yang tepat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat meraih kesuksesan tanpa bekerjasama dengan orang lain. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kekuatan Kerja Tim&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;TEAM (Tim) bukanlah sekedar kata, melainkan juga merupakan akronim untuk suatu kebenaran yang dahsyat, yaitu Together Everyone Achieve More. Konsep dari tim ini terbentuk dari kata yang sering kita dengar berulang kali, yaitu sinergi. Kata sinergi ini berasal dari bahasa Yunani sunergos, ”sun” berarti bersama dan ”ergon” berarti bekerja. Sinergi berarti interaksi dari dua individu atau lebih atau kekuatan yang memungkinkan kombinasi tenaga mereka melebihi jumlah tenaga individu mereka.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kerja tim adalah kemampuan untuk bekerja sama menuju satu visi yang sama, kemampuan mengarahkan pencapaian individu ke arah sasaran organisasi. Itulah rangsangan yang memungkinkan orang biasa mencapai hasil yang luar biasa. Dalam mata kuliah Organizational Behavior yang pernah saya pelajari, terdapat demonstrasi bagaimana kerjasama dapat menghasilkan suatu hal yang luar biasa. Kami disuruh untuk membentuk beberapa tim yang beranggotakan lima orang, di mana kami semua belum memiliki kemampuan untuk menganalisis bidang ini dengan baik. Setiap orang dalam kelompok kami diminta untuk memberikan peringkat terhadap suatu hal berdasarkan urutan dari hal yang kami anggap paling penting. Setelah itu setiap pendapat dari kami digabungkan untuk mendapatkan rata-rata peringkat untuk setiap kelompok. Apa yang terjadi? Kesimpulan rata-rata kelompok kami mendekati jawaban yang telah diberikan. Bahkan apabila hasil dari setiap kelompok disatukan dan diambil rata-ratanya, maka penilaian kami hampir sama dengan penilaian para ahli di bidang tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Demonstrasi nyata lain mengenai prinsip sinergi dapat kita lihat pula dalam kontes kuda penghela dalam kontes kuda penghela di suatu pekan raya kota. Kuda juara dalam kontes tersebut mampu menghela gerobak seberat 2.250 kilogram. Juara kedua sanggup menarik beban sebesar 2.000 kilogram. Dalam teori, berarti kedua kuda tersebut secara bersama-sama harus mampu menggerakkan maksimum 4.250 kilogram. Untuk uji coba teori tersebut, pemilik kedua kuda memadukan kedua kuda dan membebaninya dengan gerobak. Semua orang yang melihat terperangah. Kedua kuda tersebut mampu menarik beban seberat 6.000 kilogram, atau 1.750 kilogram lebih berat dibanding jumlah upaya yang mampu mereka lakukan sendiri-sendiri. Sinergi dapat dipakai untuk menyatukan tenaga individu, menutup keterbatasan individu, untuk menggandakan upaya individu, supaya sasaran yang lebih banyak dan lebih besar dapat dicapai.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Komunikasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan. Kelima unsur tersebut adalah: pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (communication channel), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback). Pesan tersebut disampaikan melalui suatu media komunikasi, sehingga dapat diterima dengan baik oleh si penerima, dan menghasilkan umpan balik yang berguna bagi si pengirim pesan. Yang dimaksud media komunikasi di sini bukan hanya berupa percakapan secara langsung dengan menggunakan suatu bahasa yang dapat dimengerti, melainkan segala hal yang dapat membuat individu saling berinteraksi dan saling mengerti mengenai pesan apa yang akan disampaikan, sehingga tidak terjadi salah penafsiran mengenai isi dari pesan tersebut. Media komunikasi tersebut bisa juga berupa isyarat melalui gerakan tubuh, morse, maupun melalui alat bantu seperti surat, gambar, serta alat bantu visual lainnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Komunikasi dalam Tim&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk dapat membangun kerjasama dalam sebuah tim, diperlukan komunikasi antaranggotanya agar tujuan bersama dapat tercapai. Pernahakan kita membayangkan apa yang terjadi dalam suatu tim apabilla setiap anggota tim tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan anggota tim lainnya? Seberapa pun hebatnya kemampuan individu dalam suatu tim, mereka tidak akan ada gunanya apabila tidak dapat berkomunikasi antara yang satu dengan lainnya. Mereka hanya akan menjadi sebuah kelompok yang tidak tahu ke mana arah yang akan dituju. Keahlian mereka akan menjadi sia-sia apabila mereka tidak dapat mengkomunikasikannya dengan orang lain. Seperti yang telah dikatakan oleh William Shakespeare ”No man is lord of anything, though in and of him there be much consisting, till he communicate his part to other.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Contoh nyata yang sering kita lihat adalah pada pertandingan sepak bola. Sering kali pada pertandingan sepak bola, di mana terdapat suatu tim yang bertabur bintang dengan skil individu yang tinggi kalah oleh sebuah tim yang berisikan pemain dengan kemampuan skill individu yang tidak begitu menonjol. Apa yang menyebabkan tim tersebut dapat menang? Komunikasi yang baik dan saling pengertian antarpemain dalam tim tersebutlah yang menyebabkan tim yang diisi oleh pemain yang memiliki skill rata-rata dapat berubah menjadi tim yang hebat dan menakutkan. Hal ini telah diakui oleh pelatih sepak bola manapun di dunia ini. Mereka mengakui bahwa skill individu merupakan hal yang penting, tetapi ada hal yang lebih penting dalam suatu tim sepakbola; yaitu kerjasama tim, kesadaran akan tugasnya masing-masing dan saling pengertian antarpemain tim tersebut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Hukum Komunikasi Efektif&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Prinsip dasar yang harus kita perhatikan dalam berkomunikasi dapat kita rangkum dalam satu kata, yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble), yang berarti merengkuh atau meraih.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hukum pertama dalam berkomunikasi adalah Respect. Respect merupakan sikap hormat dan sikap menghargai terhadap lawan bicara kita. Kita harus memiliki sikap (attitude) menghormati dan menghargai lawan bicara kita karena pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan orang tersebut. Samuel Johnson mengatakan bahwa ”There will be no RESPECT without TRUST, and there is no trust without INTEGRITY.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hukum kedua adalah Empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima. Prinsip dasar dari hukum kedua ini adalah ”Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.” ”Seek first to understand then be understood to build the skills of emphatetic listening that inspires openness and trust.” (Stephen Covey)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan atau pun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hukum ketiga adalah Audible. Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Kunci utama untuk dapat menerapkan hukum ini dalam mengirimkan pesan adalah:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Buat pesan Anda mudah untuk dimengerti&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Fokus pada informasi yang penting&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Taruhlah perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan di sekitar Anda&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selalu menyiapkan rencana atau pesan cadangan (backup)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan (Clarity). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pesan yang ingin disampaikan harus jelas sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi dari pesan kita tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan. Beberapa cara untuk menyiapkan pesan agar jelas yaitu:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Tentukan goal yang jelas&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Luangkan waktu untuk mengorganisasikan ide kita&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Penuhi tuntutan kebutuhan format bahasa yang kita pakai&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Buat pesan Anda jelas, tepat dan meyakinkan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Pesan yang disampaikan harus fleksibel&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hukum kelima dalam komunikasi tim yang efektif adalah sikap rendah hati (Humble)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Kerendahan hati juga bisa berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika kita berbicara. Justru dengan kerendahan hatilah kita dapat menangkap perhatian dan respons yang positif dari si penerima pesan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kita telah mengetahui betapa hebatnya fungsi dari suatu tim, di mana sekumpulan orang yang biasa saja dapat menghasilkan suatu output yang luar biasa. Namun tim tersebut akan menjadi tidak efektif apabila kita tidak dapat saling berkomunikasi. Oleh karena itu diharapkan kita dapat menggunakan kelima hukum komunikasi tersebut untuk membantu kita dalam menciptakan suatu tim yang solid.n&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-1668549507373830367?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/1668549507373830367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=1668549507373830367' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/1668549507373830367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/1668549507373830367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/komunikasi-efektif-dalam-tim.html' title='Komunikasi Efektif dalam Tim'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RnNTnkEDk0I/AAAAAAAAACg/tmLgPUH4IcM/s72-c/rahman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-4683057732362182707</id><published>2007-06-11T07:46:00.001-07:00</published><updated>2007-06-11T07:59:32.969-07:00</updated><title type='text'>Bunga Citra Lestari - Ingkar</title><content type='html'>Bunga Citra Lestari - Ingkar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;di saat cinta tercipta&lt;br /&gt;semestinya aku merasa&lt;br /&gt;di kala hasrat mendalam&lt;br /&gt;semestinya aku berbalas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari hati kini kusadari&lt;br /&gt;tak semestinya aku berkasih&lt;br /&gt;jika hati tak dapat berbagi&lt;br /&gt;baiknya rasa itu tersimpan dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;reff:&lt;br /&gt;semestinya aku mencinta&lt;br /&gt;seharusnya aku menyayang&lt;br /&gt;oh maafkan jika&lt;br /&gt;semua ini yg kuberikan untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari hati kini kusadari&lt;br /&gt;tak semestinya aku berkasih&lt;br /&gt;jika hati tak dapat berbagi&lt;br /&gt;baiknya rasa itu tersimpan dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;repeat reff&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-4683057732362182707?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/4683057732362182707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=4683057732362182707' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4683057732362182707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4683057732362182707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/bunga-citra-lestari-ingkar_11.html' title='Bunga Citra Lestari - Ingkar'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-1349667113846441449</id><published>2007-06-05T19:52:00.001-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:46.628-08:00</updated><title type='text'>Perempuan dan Media Massa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYijUEDkzI/AAAAAAAAACY/qMQvXNav3Lg/s1600-h/DSC00506.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYijUEDkzI/AAAAAAAAACY/qMQvXNav3Lg/s400/DSC00506.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072780020355928882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan, termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu, &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt; tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita, dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. Sebagai akibatnya, hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. Dan biasanya, ketika perempuan yang dihujat, maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya, sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini, hanya satu yang ditulis oleh perempuan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi, klinik-klinik aborsi ilegal, dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut, dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi tersebut, media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism, Postmodernism, and Gender Skepticism” (1990), mana ada media yang juga tidak bergender?(2).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini, misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Kendati bukan perilaku baru, kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Membaca kalimat tersebut, bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi, dituduh, maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi, sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. Yang pasti, memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja, tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media, rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan, bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika kita menilik figur angka pelaku media massa, ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ironisnya, jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan, di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. Di satu sisi, sebagai agen dari propaganda adil gender, media massa memberikan aplaus pada slogan “peran ganda perempuan modern”, di sisi lain mereka menuntut perempuan, sebagai “lawan jenisnya”, untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik, tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan.” (6)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara arogan, media massa, mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. Dalam hal ini, media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan, media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka, bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilai-nilai produksi dan pasar.(7) Namun, bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian, karena reproduksi pola yang terus menerus, semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme, tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. (9)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja, mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan, walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran, tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara, karena pembagian posisi peran laki-laki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik, betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan, bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman."(10)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan. Dalam mengenangkan kasus Marsinah, tahun 1993, masyarakat, terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” (workers and women)(11), berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. Namun penulis berpikir, apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis, bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya, apakah isu gendernya, konflik kelas, atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah, mencampuri kehidupan keluarganya, teman-teman, pacar, tetangga, dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita, karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa, peserta kontes yang tidak terdaftar, atau juri, yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain, media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam ketimpangan relasi gender inilah, perempuan ditantang untuk menentukan posisinya, apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”, atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. Sayangnya, perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya, meminta-minta pengakuan dari laki-laki, dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini, adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya, yakni hamil, melahirkan, menyusui. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria.” (13)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan, melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh, dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka, tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. Namun demikian, justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki, tidak tanpa dominasi. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan. Hanya melalui kesadaran inilah, apapun yang mereka lakukan, perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri.(14) &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Media massa, sebagai penerus aspirasi masyarakat, jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. Apalagi di era reformasi sekarang ini, dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. Harapannya adalah, jika isu yang sama muncul kembali, semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung, atau setidaknya empati terhadap perempuan. Sebab, kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun, dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja, enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak, mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi, dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan, semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab, yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender, apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi, bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan, dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-1349667113846441449?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/1349667113846441449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=1349667113846441449' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/1349667113846441449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/1349667113846441449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/perempuan-dan-media-massa_05.html' title='Perempuan dan Media Massa'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYijUEDkzI/AAAAAAAAACY/qMQvXNav3Lg/s72-c/DSC00506.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-7996871074587587996</id><published>2007-06-05T19:34:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:46.900-08:00</updated><title type='text'>Peran Media Global dalam Pembentukan Identitas Islam di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYgGEEDkyI/AAAAAAAAACQ/CYbQuSTqeGQ/s1600-h/DSC00503.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYgGEEDkyI/AAAAAAAAACQ/CYbQuSTqeGQ/s400/DSC00503.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072777318821499682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Pada tanggal 21 Mei 2006, pusat kota Jakarta lumpuh semenjak pagi hingga sore hari. Hal ini disebabkan berkumpulnya massa yang jumlahnya tidak kurang dari 1 juta orang. Mereka melakukan aksi damai mendukung diterapkannya aturan mengenai pakaian dan kesusilaan yang berdasarkan syariat Islam (untuk tidak menyatakan, mendukung RUU APP). Massa sebesar itu merupakan gabungan dari berbagai elemen Islam, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persatuan Islam (Persis), Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), al-Irsyad, dan lain-lain. Aksi yang sama juga terjadi di seluruh kota-kota besar di Indonesia. &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Setelah beberapa tahun lalu sering disibukkan dengan masalah perbedaan mazhab, kini hampir seluruh organisasi Islam bergabung dalam satu barisan, satu langkah, dan satu isu bersama. Di samping itu, umat Islam melalui ormas-ormasnya ternyata mampu mengartikulasikan keinginan politiknya, dengan kata lain, kecerdasan dan partisipasi umat Islam yang selama ini dianggap pupus dan mandul, mulai menyeruak muncul. Berkelanjutan dengan bergulirnya isu Anti Pornografi dan Pornoaksi, muncul isu mengenai Peraturan Daerah yang banyak mengadopsi atau bahkan menjadi batu loncatan penerapan, syariat Islam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Beberapa kejadian diatas memberikan petunjuk, bahwa di Indonesia sedang muncul keinginan sebagian besar warga Indonesia untuk kembali kepada Islam. Penduduk Indonesia, bisa dikatakan mulai memilih untuk menghubungkan identitasnya sebagai bagian dari umat Islam sedunia. Proses identifikasi diri ini (baca: fragmentasi) justru terjadi manakala dunia sedang mengalami transformasi penghilangan sekat-sekat teritorial atas pergerakan modal, penduduk, dan informasi yang berjalan sangat masif (baca: globalisasi). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Beberapa detik setelah roket Israel menghantam Jalur Gaza di Palestina ketika ramai perebutan Piala Dunia 2006 di Jerman kemarin, dapat langsung menyedot kembali perhatian umat Islam di Indonesia. Terlihat, keesokan harinya, puluhan ribu massa HTI, MMI, PKS, dan lain-lain turun ke jalan-jalan di Jakarta untuk menghujat Israel dan sekutunya, Amerika Serikat dan Inggris. Rupanya kemajuan teknologi informasi yang terstruktur dalam tatanan media global memiliki andil dalam berbagai dinamika proses identifikasi diri tersebut&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Komunikasi Massa dan Media Global&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Komunikasi telah mencapai suatu tingkat dimana orang mampu berbicara dengan jutaan manusia secara serentak dan serempak. Teknologi komunikasi muthakhir telah menciptakan apa yang disebut ‘publik dunia’ (Dofivat, 1967 dalam Rakhmat, J.,1999). Bersamaan dengan perkembangan teknologi komunikasi ini, meningkat pula kecemasan tentang efek media massa terhadap khalayaknya. Dofivat mengingatkan kita tentang kemungkinan dikontrolnya media massa oleh segelintir orang untuk kepentingannya sendiri, sehingga jutaan manusia kehilangan kebebasannya. George Orwell, futuris lainnya, meramalkan suatu dunia pada tahun 1984. Dalam ramalan tersebut seorang diktator mengendalikan pikiran dan tingkah laku rakyat dengan teknologi komunikasi yang cermat dan rumit. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada akhirnya, Jalaluddin Rakhmat merangkum sendiri definisi komunikasi massa menjadi, sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Rakhmat, J., 1999) &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sementara itu, media global secara mudah, didefinisikan sebagal sistem media komersial yang telah berhasil membuat informasi sampai pada tingkatan global. Ia didominasi oleh sejumlah kecil korporasi media transnasional yang sangat kuat dan biasanya berbasis di Amerika Serikat. Ia adalah sebuah sistem yang bekerja untuk meningkatkan justifikasi bagi perlunya pasar global dan menyebarkan nilai-nilai komersial, sementara kritik jurnalisme dan budaya tidak menjadi perhitungan bagi kepentingan korporasi jangka panjang. (McChesney, R., 1997)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sistem komersial global adalah perkembangan yang sangat baru. Hingga tahun 1980-an, sistem media secara umum hanya memiliki jangkauan nasional. Meski terdapat impr buku-buku, film, musik, dan acara TV selama beberapa dekade, dasar sistem penyiaran dan industri koran masihlah dimiliki secara domestik, dan diregulasi. Pada awal tahun 1980an, tekanan dari IMF, Bank Dunia, dan pemerintah Amerika Serikat untuk melakukan deregulasi dan privatisasi sistem media dan komunikasi, bertepatan dengan munculnya teknologi digital dan sistem satelit yang baru, menghasilkan kebangkitan bagi raksasa media transnasional &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Diri dan Identitas&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Banyak pemikir sosiologi yang melihat konsep diri, muncul, berkembang dan dipertahankan melalui proses interaksi sosial. Ia tidak diberikan ketika lahir atau merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan dari perkembangan biologis seseorang. Tetapi, seorang individu harus belajar siapa dirinya melalui interaksi dengan orang lain. Melalui interaksinya dengan orang lain, seseorang menjadi percaya bahwa dia memiliki diri yang berbeda dan bermakna (Sandstrom, et.al., 2001). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Permasalahan yang kemudian banyak diperhatikan adalah apakah tindakan seseorang dipengaruhi oleh konsep diri atau justru oleh situasi. Studi kualitatif Ralph Turner (1976) dan Louis Zurcher (1977) yang mengambil sampel masyarakat Amerika mendapati bahwa budaya Amerika telah berubah. Pada tahun 1950-an hingga 1960-an, warga Amerika cenderung memiliki konsep diri yang stabil dan konsisten, yang biasanya dijangkarkan pada institusi sosial dimana mereka aktif, semisal keluarga, tempat kerja, gereja, atau sekolah. Pada tahun 1970-an, ternyata warga Amerika telah mengembangkan rasa diri yang bisa didiamkan (mutable), dan berjangkar lebih pada rangsangan ketimbang institusi, serta lebih dapat beradaptasi secara fleksibel pada tuntutan perubahan dalam masyarakat yang sangat cepat. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Erving Goffman, justru memandang bahwa tidak ada konsep diri yang real, ia hanyalah seperangkat topeng dan sandiwara situasi. Goffman menganggap bahwa interaksi sehari-hari dapat dipahami lebih baik jika kita berfikir, bahwa sesungguhnya orang-orang adalah aktor yang bermain di panggung. Sebagai aktor, mereka memainkan peran dan memanipulasi sandaran,seting, kostum serta simbol-simbol untuk mencapai hasil yang menguntungkan, semakin halus interaksi tersebut, makin dihargai orang tersebut. Orang-orang memiliki ide tentang siapa diri mereka, ide-ide yang mereka sajikan pada orang lain. Mereka memperhatikan citra yang orang lain bentuk dari mereka. Hanya dengan mempengaruhi citra dirinya kepada orang lain, mereka dapat memperkirakan atau mengontrol bagaimana orang lain akan merespon diri mereka. Proses penyesuaian (tailoring) tampilan mereka pada pemirsa yang lain sangat mendasar bagi interaksi sosial. Goffman menyebutnya sebagai impression management, sebuah proses dimana tiap orang memanipulasi bagaimana orang lain melihat dan menjabarkan situasi, membuat isyarat isyarat ekpresif yang membawa orang lain untuk bertingkah sebagaimana yang mereka rencanakan (Goffman, 1959 dalam Sandstrom, et.al., 2001). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;II. Mencari Hubungan&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Appadurai mengatakan, pergerakan global manusia dan persebaran media elektronik beserta produk budayanya adalah ciri khas dari momen sejarah kontemporer. Skala dan cakupan pergerakan dan persebaran global ini – beberapa aspek penting dimana kebanyakan orang menyebutnya sebagai globalisasi – mempunyai konsekuensi mendalam bagi proses kognitif dan proses sosial yang menjadi akar dari pembentukan identitas budaya. Dalam konteks globalisasi, proses kognitif dan proses sosial, hampir tidak dapat dihindari terkait dengan pertanyaan tentang komunitas dan negara serta penuh dengan tekanan politik dan budaya. Oleh karenanya, proses pembentukan identitas selalu merupakan sebuah perebutan ruang budaya dimana media massa – baik media mainstream maupun media alternatif – mewakili sumber daya sekaligus pembatas bagi konstruksi “imagined selves” dan “imagined worlds” (Appadurai, 1996). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa yang kemudian kita usahakan untuk ketahui saat ini sebenarnya adalah efek dari Media Global terhadap pembentukan identitas Islam / Muslim dari warga Indonesia. Yang berusaha kita ketahui saat ini bukanlah efek komunikasi massa terhadap pembentukan identitas, tetapi efek kepemilikan segelintir pihak atas sistem komunikasi massa global, terhadap pembentukan identitas. Ada dua teori yang akan digunakan untuk menjelaskan perihal perebutan ruang budaya ini. Yaitu, teori Cultural Imperialism, dan teori Cultural Critical. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Cultural Imperialism&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Teori imperialisme budaya menyatakan bahwa negara-negara Barat telah mendominasi media di seluruh dunia yang berakibat sangat besar pada budaya negara Dunia Ketiga dengan memaksakan pada mereka pandangan-pandangan Barat dan kemudian menghancurkan budaya asli mereka (Schiller, H.,1973). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini dapat terjadi karena Peradaban Barat dengan kemampuan finansial yang besar, mampu memproduksi berbagai bentuk media (film, berita, komik, dan lain-lain) dalam frekuensi yang besar pula. Sementara negara-negara lain memberli produk ini, karena ia lebih murah bagi mereka, ketimbang memproduksi sendiri. Oleh karena itu, negara Dunia Ketiga melihat media yang telah dicekoki dengan gaya hidup, gaya keyakinan, dan gaya berfikir dunia Barat. Dunia Ketiga kemudian ingin melakukan hal yang sama terhadap negara mereka, dan secara perlahan menghancurkan budaya mereka sendiri. &lt;br/&gt;Menurut teori ini, manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana mereka merasakan, bertingkahlaku, berfikir, dan hidup. Mereka hanya bisa bereaksi pada apa yang mereka lihat di televisi. Hal ini terjadi karena tidak ada hal lain yang dapat dijadikan perbandingan yang seimbang. Oleh karenanya hanya ada satu kebenaran, dan apapun yang terjadi, kebenaran tersebut tidak akan berubah. Selama negara Dunia Ketiga terus menyiarkan program-progam Peradaban Barat, maka negara Dunia Ketiga akan terus mempercayai bahwa mereka harus bertindak, merasa, berfikir, dan hidup sebagaimana Peradaban Barat bertindak, merasa, berfikir, dan hidup. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Cultural Critical&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Teori Kritik Budaya menyatakan bahwa media massa telah memaksakan ideologi dominan pada masyarakat lain. Pengonotasian kata serta citra adalah bagian dari pemaksaan ideologi, yang dilakukan sebagai bentuk pelayanan terhadap elit yang sedang berkuasa (Hall, S., 1976 dalam Griffin, E., 1997). Artinya, pertama, media telah menjadi alat kontrol atas bagaimana negara kita dilihat oleh publik dunia. Kedua, publik dunia adalah subyek sekaligus obyek dari media yang sangat mudah untuk dimanipulasi. Ketiga, tidak ada demokrasi dalam kendali media, karena media sendiri adalah alat yang dikendalikan oleh pihak elit yang berkuasa. Proses serta pesan yang terjadi dalam komunikasi, jelas bersifat hanya searah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Identitas Islam – Muslim dan Ummah&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Islam sebagai identitas yang dikenakan, dapat dikenali melalui pendekatan keyakinan yang dimiliki, tetapi tidak (belum) pada perbuatan yang mereka lakukan (karena itu ada istilah fasiq/pendosa, dan munafiq/hipokrit). Pendekatan kedua adalah pendekatan institusional, dimana identitas dilihat dari adanya pengakuan / konfirmasi identitas dari institusi yang berwenang. Jadi, seseorang dipandang sebagai orang Islam (Muslim) jika orang tersebut yakin pada keberadaan Allah swt sebagai Tuhan, yakin pada keberadaan Malaikat-Malaikat, yakin pada keberadaan Muhammad saw sebagai utusan Tuhan yang terakhir, yakin pada keberadaan Al Quran sebagai kitab suci terakhir bagi seluruh umat manusia, dan yakin pada keberadaan Qadha dan Qadar (Takdir). Ia juga dipandang sebagai seorang muslim manakala memegang identitas resmi yang menyatakan dirinya sebagai orang Islam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Identitas kolektif dari orang-orang Islam, biasa disebut dengan istilah Ummah. Konsep Ummah sendiri berasal dari dogma Islam yang tersebut dalam Al Quran, yaitu ummatan waahidah (umat yang satu). Pada awalnya, ummah memiliki dua konotasi, yaitu komunitas atau negara yang terdiri dari orang-orang yang beriman, dan dunia Islam itu sendiri. Para pakar Islam modern sering menggunakan frasa ‘Ummat Islam’ yang ditujukan pada seluruh manusia yang ada di tanah dan negeri-negeri dimana orang Islam dominan tinggal, dan mereka yang berada dibawah kontrol Khilafah Islam. Karena Khilafah Islam tidak hanya terdiri dari orang-orang Islam, maka sebutan Ummah juga mengena pada minoritas non-Muslim. Ketika para ahli ini berbicara mengenai penyatuan ummat Islam, mereka juga memasukkan orang non-Muslim, sebagai warga negara Ummat Islam, yang hidup secara damai dengan penghormatan atas agama-agama mereka. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Global War Against Terrorism dan Imperialisme Budaya Amerika Serikat – Buah Agenda Setting Media Global&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Berbicara tentang wacana “war on terrorism”, maka hal ini tidak dapat dilepaskan dari peristiwa tragis di awal abad ke 21 yaitu peristiwa terror terhadap gedung WTC pada 11 September 2001. Banyak pengamat dan intelektual yang menempatkan 9/11 sebagai awal pijakan baru bagi atmosfer politik global di abad ke-21. Hal ini tentunya tidak semata-mata angka korban kematian 3000 jiwa yang diakibatkan oleh penyerangan terror tersebut. Namun nilai fundamental dari 9/11 justru pada transformasi kebijakan luar negeri berbasis kepentingan nasional dari pemerintahan AS sebagai respons terhadap serangan tersebut. Sesaat setelah terjadinya penyerangan tersebut, jajaran pemerintahan Amerika Serikat yang diwakili oleh pernyataan Wakil Presiden Dick Cheney, menguraikan bahwa atas nama mempertahankan kepentingan nasional, akan dimulai sebuah babak awal baru bagi perang terhadap terorisme. Perang berjangka panjang dan tidak akan selesai, setidaknya dimasa kehidupan kita. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Genderang perang terhadap terorisme semakin nyaring ditabuh dan benar-benar menjadi komitmen dari pemerintahan Amerika Serikat, setelah pidato Presiden George W. Bush di West Point pada tahun 2002. Diawali dengan penegasian terhadap motif-motif imperialisme yang dituduhkan oleh banyak kalangan kepada pemerintahannya, George W. Bush menguraikan bahwa Amerika tidak memiliki kepentingan terhadap ekspansi imperialisme ataupun menegakkan rencana utopia tersebut. Namun demikian pernyataan tersebut kemudian dilanjutkan dengan tendensi imperialistic pemerintahan neo-conservative dari Bush. Menurut Bush, bangsa Amerika akan menggunakan posisinya untuk membangun tatanan dunia baru berbasis keterbukaan dimana nilai-nilai progresif dan kebebasan akan menyebar di seluruh bangsa-bangsa di dunia. Tatanan dunia damai berbasis kemerdekaan akan menjaga kepentingan jangka panjang Amerika dan memperkuat tali persatuan antara Amerika dan bangsa-bangsa lain yang akan turut menjaga tatanan dunia tersebut. Lanjut Bush, represi, kemiskinan, dan penindasan akan digantikan dengan harapan akan demokrasi, pembangunan, bersama dengan pasar dan perdagangan bebas. Pernyataan dari George Bush ini kemudian terrealisasikan secara resmi sebagai kebijakan Amerika Serikat dalam dokumen National Defense Strategy (NDS) beberapa waktu kemudian. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pernyataan Bush tersebut menunjukkan bagaimana pemerintahan neo-conservative dibawah George W. Bush ini menyembunyikan motif imperialistiknya dan “membajak” jargon-jargon demokrasi, kebebasan dan pembangunan untuk melegitimasi proyek imperialistiknya terhadap bangsa-bangsa lain. Beberapa argumentasi akademik (Michael Ignatieff, Max Boot, Samuel P. Huntington, Christopher Hitchen dll) kemudian muncul untuk memberikan dukungan terhadap motif ekspansif dari pemerintahan Amerika Serikat dibawah Bush ini. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Michael Ignatieff (2003) penulis prolific dari surat kabar New York Times dalam artikelnya The Burden , menegaskan bahwa inisiatif pemerintahan Bush untuk mendeklarasikan perang terhadap terorisme merupakan bagian dari proyek imperialisme. Namun demikian Ignatieff mengafirmasi proyek imperial tersebut dengan mengutarakan bahwa Amerika tidak dapat lagi membangun tatanan imperial setengah hati seperti masa-masa sebelumnya. Sekaranglah saatnya bagi AS untuk menyiapkan diri secara serius memerankan dirinya secara permanent menjaga tatanan global bagi kepentingan bangsa ini untuk menjamin kebebasan, persamaan dan demokrasi diseluruh dunia. Proyek imperial inilah kemudian dalam ruang publik dikenal sebagai proyek “Imperialisme Demokratik”. Sebuah proyek imperial yang didorong oleh hasrat-hasrat primitive akumulasi capital dan perluasan hegemoni politik dan diberi pembenar legitimasi intelektual penyebaran gagasan-gagasan demokrasi (Pribadi, A.,2006). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;President George Bush Jr dalam pidatonya di depan undangan National Endowment of Democracy dan di hadapan The Ronald Reagan Presidential Library, pada hari Kamis, 6 Oktober 2005 menyatakan &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“The militants believe that controlling one country will rally the Muslim masses, enabling them to overthrow all moderate governments in the region, and establish a radical Islamic empire that spans from Spain to Indonesia.” (http://www.msnbc.msn.com/id/11989895/ diakses 2 Juni 2006) &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bush artinya dengan lantang menyatakan bahwa, konsep Ummah atau identitas kolektif Islam-lah yang kemudian menjadi ancaman paling besar dari proyek Imperialisme Demokratik Amerika Serikat. Hal ini berulang-ulang dinyatakan oleh Bush, Blair, dan Cheney di berbagai kesempatan lain dan juga dikutip oleh banyak sekali media. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kenyataan bahwa Bush memusuhi Islam-lah yang kemudian menggores cakar pedas ke dalam hati umat Islam di seluruh Dunia, tak terkecuali di Indonesia. Dan invasi Amerika Serikat atas budaya Islam melalui raksasa media memang sesungguhnya sedang terjadi lewat berbagai program Global War on Terror-nya. Zallum (1996) jauh jauh hari sudah menyatakan bahwa media memiliki peran yang sangat penting dalam serangan Amerika untuk menghancurkan Islam. Bahkan, raksasa media, yang selalu beritanya dikutip mentah-mentah oleh media Nasional, pun menjadi pilar keempat bagi serangan ini setelah Geopolitik AS di berbagai negeri Islam, Kepemimpinan AS atas negara kapitalis lain, dan Legitimasi AS melalui lembaga internasional. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;“Sarana-sarana media massa internasional yang telah dikuasai oleh AS dan sekutu-sekutunya yang kemudian dijadikan senjata paling mematikan untuk melancarkan serangan. Sarana-sarana itu, selain dimanfaatkan AS untuk menjajakan slogan-slogan yang mereka gunakan dalam serangan ini, telah direkayasa untuk menggambarkan citra buruk mengenai Islm serta membangkitkan rasa benci dan permusuhan dunia terhadap orang-orang yang berpegang teguh pada Islam. Mereka yang konsisten terhadap Islam telah dicap dan dicaci-maki dengan macam-macam predikat seperti: “fundamentalis”, “radikalis”, “ekstrimis”, “teroris”, dan sebagainya. Tidak diragukan lagi, senjata mereka ini sangatlah berbahaya, terutama setelah adanya revolusi komunikasi dan informasi yang berlangsung pada paruh kedua abad ini, sehingga dunia seakan-akan telah berubah menjadi sebuah desa kecil. Akibatnya, hampir tidak ada satu rumah pun di dunia ini yang tidak dimasuki oleh arus informasi, baik informasi yang dapat dibaca maupun yang bersifat audio visual.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pembentukan Kembali Identitas Islam di Indonesia, Kesalahan Teori Kritik Budaya?&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Saya rasa teori kritik budaya masihlah relevan untuk digunakan. Karena pada muasalnya, teori kritik budaya ini penerapannya hanya pada konteks budaya lokal, atau pembentukan identitas lokal. Sementara identitas lokal bangsa Indonesia memang justru semakin tergerus, dan identitas Islam-lah yang kemudian dipilih untuk digunakan menentang kezaliman imperialisme budaya Barat. Adakah teori yang bisa menjelaskan ini? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mungkin menyebut teori Huntington tentang Benturan antar Peradaban, akan sangat membosankan. Tetapi, hanya teori ini yang dapat memberikan kerangka global bagi diskursus identitas. Penjelasannya, imperialisme budaya Amerika Serikat sangatlah bersifat ideologis. Peradaban ideologis ini memiliki senjata yang sangat kuat, yaitu institusi pemerintah dan berbagai derivatnya. Sesungguhnya masyarakat telah sadar, bahwa peradaban ideologis dunia hanya dapat dilawan oleh peradaban ideologis dunia yang lain. Tidak mungkin peradaban ideologis dunia yang high context culture, dapat dilawan oleh peradaban lain yang low context culture. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dialog antar peradaban yang dibangun sebagai counter atas tesis benturan peradaban, tidak akan mewujud manakala kondisi versus antar high context culture tersebut timpang. Sebagai contoh, Kapitalisme, memiliki AS dan sekutu sebagai ujung tombaknya, sementara Islam, tidak memiliki Khilafah Islam sebagai ujung tombak yang lain. Maka tesis benturan antar peradaban ini sangatlah mungkin untuk menjelaskan fenomena yang kini sedang terjadi, dan bisa jadi tesis benturan peradaban ini tidak akan pernah berakhir. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada dua teori pendukung yang dapat menjelaskan lebih detail tentang , yang pertama adalah teori alienasi dan kesadaran kelas, dan kedua adalah teori interkultural standpoint. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Alienasi dan Kesadaran Kelas&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Alienasi adalah proses dimana rakyat menjadi terasingkan dari dunia dimana mereka hidup. Konsep alienasi ini melekat secara mendalam dalam seluruh agama besar dan teori sosial politik di generasi yang beradap. Konsepnya adalah, bahwa pada suatu waktu di masa lalu, rakyat hidup dalam harmoni, dan kemudian muncul semacam keterputusan (rupture) dimana kemudian membuat orang lain serasa asing di dunianya. Akan tetapi pada waktu yang lain di masa depan, alienasi ini akan dapat diatasi dan kemanusiaan akan kembali hidup dalam harmoni itu sendiri dan bersama Alam (Mészáros, István. 1970).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam konsepsi Marx, alienasi yang awalnya dikembangkan oleh Hegel ini akan merubah kesadaran masyarakat tentang kelas. Konsep kesadaran kelas yang memicu perjuangan kelas merupakan metode perubahan Sosialisme Marx atas Kapitalisme Klasik. Kesaran Kelas dalam konsep Marx adalah kesadaran akan keberadaan dirinya dilihat dari sudut pandang bagaimana orang memproduksi dan juga mengkonsumsi suatu produk. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kita coba untuk menginduksikan kesadaran kelas ini pada kesadaran kepemilikan cara produksi media. Pada kenyataannya, sumber media di Indonesia seringkali adalah dari media global. Dan seringkali produk media tersebut disiarkan kembali dengan mentah-mentah kepada khalayak Indonesia. Sementara itu, produk media Barat sendiri sangat menusuk harga diri ummat Islam. Kesadaran bahwa ummat Islam dialienasi dalam hal produksi dan konsumsi media, menjadikan mereka bangkit, dan bergerak melawan kezaliman imperialisme budaya Barat dengan mengusung identitas Islam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan ummat Islam menginginkan agar mereka pun mampu membuat berbagai counter opinion, salah satunya melalui media massa. Berbagai jalan bisa dipilih, meski kemudian belum bisa menyaingi keberadaan media global. Bahkan Al Jazeera TV yang berpusat di Qatar, pun belum bisa mengalahkan dominasi media global milik kaum Kapitalis Barat. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Standpoint&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Teori ini menjelaskan bahwa pengalaman individu, pengetahuan, dan perilaku komunikasi sebagian besar dibentuk oleh kelompok sosial dimana mereka aktif (Wood, J. T.,1982 dalam West, R., &amp;amp; Turner, L. H., 2000). Dari sinilah kita dapat menarik kerangka tentang sistematika pengaruh kekuatan pembentuk identitas. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara kultural, bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan dan masa awal kemerdekaan adalah bangsa yang guyub. Keguyuban ini pun terbawa pada kolektif-kolektif komunitas Islam. Kita mengenal adanya komunitas pesantren NU, dan Muhamadiyyah pada masa sebelum kemerdekaan. Setelah kebijakan Soeharto di era tahun 1980-an yang lebih dekat dengan Islam, dan komunitas kolektif Islam menjadi semakin menjamur. Dan semakin banyaknya komunitas kolektif inilah yang kemudian banyak sekali mempengaruhi kehidupan warga Indonesia yang lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh media global telah tereduksi oleh keberadaan dan pengaruh komunitas kolektif yang memiliki high context culture.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semangat warga Indonesia untuk kembali menggunakan Identitas Islam untuk melawan kezaliman Barat ternyata dipengaruhi oleh keberadaan media global milik Kapitalis Barat. Teori Imperialisme Budaya menjelaskan, bahwa media global tersebut telah menciptakan kondisi pemusnahan secara perlahan dan sistematis atas budaya ummat Islam di seluruh dunia. Sementara Teori Kritik Budaya memperlihatkan bahwa, sebenarnya memang media global telah menjadi alat yang dikontrol hanya oleh sebagian kecil (elit Barat) yang berkuasa, seperti Time Warner, Disney, Bertelsmann, Viacom, dan Rupert Murdoch News Corporation. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Identitas Islam sendiri biasa diungkapkan melalui rukun iman dan dokumen legal. Dan citraan ini telah dimanipulasi (tailoring) oleh media global melalui agenda global war on terrorism pasca tragedi 11 September 2001. Selain itu, publik Indonesia juga merasa perlu untuk menghentikan kezaliman Kapitalisme global. Maka kemudian digunakanlah identitas Islam sebagai identitas yang high context culture. Karena untuk mengalahkan Kapitalisme global yang high context culture, identitas menjadi tandingan juga harus merupakan identitas high context culture. Meski kemudian dipahami, bahwa identitas ini tidak akan berarti apa-apa selama belum terinstitusionalisasikan melalui metode keummatan atau Khilafah Islam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Benturan peradaban bisa jadi memang yang sedang terjadi antara Islam dan Kapitalisme Barat. Karena, melalui teori alienasi dan kesadaran kelas, kita mendapati bahwa warga Islam di Indonesia, dan di dunia sebenarnya telah teralienasikan dari Islam itu sendiri, dan kemudian diformat ulang agar menjadi sama dengan format pengendali media global Kapitalis. Kesadaran akan alienasi dan kesadaran akan timpangnya sumberdaya untuk melawan Kapitalisme di tataran media global (kesadaran kelas), kemudian mempengaruhi tindakan mereka untuk bergerak melalui cara-cara seperti pengorganisasian massa, dan aksi turun jalan dengan menggunakan identitas politik Islam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-7996871074587587996?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/7996871074587587996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=7996871074587587996' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/7996871074587587996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/7996871074587587996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/peran-media-global-dalam-pembentukan.html' title='Peran Media Global dalam Pembentukan Identitas Islam di Indonesia'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYgGEEDkyI/AAAAAAAAACQ/CYbQuSTqeGQ/s72-c/DSC00503.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-2643732634562816709</id><published>2007-06-05T19:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:47.105-08:00</updated><title type='text'>Efek Media Massa dalam Politik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYb_UEDkxI/AAAAAAAAACI/_FdEEGxslDM/s1600-h/DSC00519.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYb_UEDkxI/AAAAAAAAACI/_FdEEGxslDM/s400/DSC00519.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072772804810871570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Psikologi sosial sebagai cabang ilmu psikologi mempelajari bagaimana individu dipengaruhi orang lain. Televisi, yang bisa menampilkan atau tampil sebagai ‘orang lain’ juga memiliki pengaruh pada pikiran, perasaan dan perilaku kita. &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung yang pertama kali terjadi di bumi Indonesia menjadi agenda utama media-media baik cetak maupun elektronik. Beberapa stasiun televisi berlomba-lomba menghadirkan informasi sebanyak dan seaktual mungkin. Mulai dari acara talk show, debat kandidat, dialog, atau poling sms. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Fenomena ini merupakan gambaran dari peran penting media dalam suatu pemilihan umum (election) seperti dikemukakan oleh Oskamp &amp; Schultz (1998), yakni memusatkan perhatian pada kampanye, menyediakan informasi akan kandidat dan isu seputar pemilu. Pertanyaan besar yang sering dilemparkan ialah, bagaimana media mempengaruhi wawasan politik, sikap dan perilaku masyarakat? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Meskipun tidak semua orang setuju dengan model dan gaya yang ditampilkan media televisi atau media cetak, namun tercatat empat pengaruh media dalam politik bagi masyarakat yaitu (a) penambahan informasi, (b) kognitif, (c) perilaku memilih, (d) sistem politik. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Penambahan informasi&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hampir sebagian besar orang dewasa menyatakan bahwa mereka mendapatkan hampir seluruh informasi tentang berbagai peristiwa dunia maupun nasional dari media massa. Secara umum, studi telah menunjukkan bahwa masyarakat yang banyak mengkonsumsi media biasanya memiliki pengetahuan yang lebih baik dan aktual daripada yang tidak atau kurang memanfaatkan media. Namun hal ini lebih berlaku untuk media cetak ketimbang televisi. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kelemahan media televisi ada pada kecenderungannya untuk lebih menyorot hal-hal yang ‘menghebohkan’, seperti huru-hara saat demonstrasi, reaksi elemen masyarakat terhadap kandidat tertentu, dan sebagainya. Kecenderungan ini akhirnya mengabaikan substansi isu politik itu sendiri. Fenomena ini, jauh-jauh hari telah ditegaskan oleh Patterson &amp;amp; McClure (1976, dalam Oskamp &amp; Schultz,1998), “Network news may be fascinating. It may be highly entertaining. But it simply not informed." &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selain itu, media televisi juga memiliki kapasitas terbatas untuk menghadirkan ulasan-ulasan yang mendalam, berbeda dengan media cetak yang bisa menampilkan berbagai tulisan sehingga pembaca bisa menyimaknya berkali-kali, bahkan berhenti sejenak untuk merenung atau diskusi dengan pembaca lain tanpa khawatir artikel tersebut akan ‘hilang’. Bandingkan dengan televisi, pemirsa tidak bisa ‘menghentikan’ tayangan untuk memberi waktu otaknya berpikir apalagi merenung. Meski demikian, tidak berarti televisi tidak pernah memberikan kontribusi dalam pemilihan umum. Buktinya di Amerika, dalam suatu studi tahun 1992 telah menunjukkan bahwa tayangan debat Clinton – Bush – Perrot, telah meningkatkan informasi tentang kandidat dan pandangan atau prinsip-prinsip yang dianut bagi para pemilih dalam pemilu tersebut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Efek Kognitif&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Media memiliki kemampuan untuk ‘mengatur’ masyarakat, not what to think, but what to think about. Penjelasan pada kalimat yang ‘indah’ ini ialah media cenderung mengarahkan masyarakat memikirkan hal-hal yang tersaji dalam menunya, bukan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar masyarakat itu sendiri. Saat media A berbicara tentang Inul, merembet pada media lain, masyarakat pun ikut terlena didalamnya. Masalah kebanjiran yang menjadi langganan Jakarta pun tidak lagi terlalu mengusik, hingga tiba saat kondisi riil musibah itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Perhatian masyarakat cenderung lebih dipengaruhi gambaran media daripada situasi nyata dunia. Contoh lain, semakin banyak media yang mengusung dan mengemas berita kriminal, masyarakat mungkin saja menjadi yakin bahwa ada suatu gelombang kejahatan, tanpa perlu lagi memastikan atau mencari tahu informasi sebenarnya apakah kejahatan memang meningkat, menurun atau konstan. Oleh kareena itulah, materi dalam media dapat menentukan ‘agenda publik’, yaitu suatu topik yang menjadi perhatian atau minat masyarakat serta mencoba untuk direspon. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Perilaku memilih&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara luas, media lebih cenderung menguatkan tujuan-tujuan yang ada dalam pemungutan suara daripada merubahnya. Seperti telah disinggung diawal bahwa peran utama media dalam suatu pemilihan umum ialah menfokuskan perhatian masyarakat pada kampanye yang sedang berlangsung serta berbagai informasi seputar kandidat dan isu politik lainnya. Walaupun mungkin tidak memberi dampak langsung untuk merubah perolehan jumlah suara, namun media tetap mampu mempengaruhi banyaknya suara yang terjaring dalam suatu pemilu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut Noelle-Newman (1984,1992, dalam Oskamp &amp;amp; Schulz,1998), secara implisit, masyarakat membuat suatu penilaian terhadap pihak maupun cara yang ditempuh untuk memenangkan pemilihan, atau isu-isu panas yang diperdebatkan. Penilaian personal yang dipengaruhi kuat oleh media ini diam-diam bisa berdampak pada pengurangan jumlah suara bagi pihak yang kalah. Ulasan dini seputar pemilu atau laporan berdasarkan survei secara random dapat memperkuat penilaian masyarakat, terutama tentang siapakah yang akan menjadi pemenang dan mendorong terbentuknya ‘spiral silence’ diantara pihak yang merasa kalah atau menjadi pecundang. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan terlalu yakin jika poling-poling sms di berbagai stasiun televisi tidak memiliki dampak apa-apa, setidaknya besarnya angka poling pada pihak A, akan mengusik atau menciutkan hati pihak B, atau lainnya. Masyarakat yang mengidolakan atau akan memilih capres-cawapres C misalnya, ‘mau nggak mau dipaksa untuk ‘meringis’ tatkala melihat jagonya berada di urutan buncit dalam poling sms, meski hampir semua percaya bahwa itu bukan representasi masyarakat Indonesia. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Efek dalam sistem politik&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Televisi telah merubah wajah seluruh sistem politik secara luas dengan pesat. Media ini tidak hanya mempengaruhi politik dengan fokus tayangan, kristalisasi atau menggoyang opini publik, namun secara luas berdampak pada para politisi yang memiliki otoritas dalam memutuskan kebijakan publik. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Media, dengan publisitas, pemasangan iklan dan ulasan beritanya, juga memiliki kemampuan yang kuat untuk secara langsung mempengaruhi meningkatnya jumlah dana dalam suatu kampanye politik. Begitu penting dan besarnya peran berita atau ulasan-ulasan media dalam suatu pemilihan umum, maka baik staf maupun kandidat politik sebenarnya telah menjadi media itu sendiri. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kontrol Masyaraka&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;t&lt;/strong&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Begitu besar pengaruh dan peran media dalam perpolitikan, hendaknya dimanfaatkan secara bijaksana. Terkadang seorang tokoh atau pihak tertentu yang masih bermasalah di masa silam atau kini nampak begitu kemilau dan tiba-tiba bersih sehingga masyarakat pun lengah dengan kepahitan yang pernah ada. Terus berputar pada masa lampau juga tidak akan mencerahkan bangsa ini, namun melupakan masa lalu juga bukan syarat bagi perbaikan diri, terlebih suatu bangsa. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kontrol masyarakat untuk selalu melihat segala sesuatu dengan proposional, kritis dan obyektif sangat lah diperlukan. Hendaknya media juga mendorong masyarakat untuk melakukan critical control, sehingga terjalin kerjasama yang benar-benar secara positif membawa manfaat dan kontribusi bagi kedua belah pihak : pihak media massa dan terutama, pihak masyarakat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-2643732634562816709?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/2643732634562816709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=2643732634562816709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/2643732634562816709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/2643732634562816709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/efek-media-massa-dalam-politik.html' title='Efek Media Massa dalam Politik'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYb_UEDkxI/AAAAAAAAACI/_FdEEGxslDM/s72-c/DSC00519.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-2889031198189565311</id><published>2007-06-05T19:01:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:47.406-08:00</updated><title type='text'>Peran Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Sarana untuk Menghancurkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYW8kEDkwI/AAAAAAAAACA/Vx0IWwfjB48/s1600-h/DSC00516.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYW8kEDkwI/AAAAAAAAACA/Vx0IWwfjB48/s400/DSC00516.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072767260008092418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;berikut ini saya akan sampaikan tentang komunikasi modern dan implikasinya. karena dunia komunikasi tidak bisa dipisahkan dengan tekhnologi informasi....&lt;br/&gt;1. Pengertian Komunikasi&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Van Doorn &amp; Lammers menyatakan komunikasi adalah merupakan sebagai sebuah tindakan, ia menganalisis komunikasi dari dua sisi yaitu sisi individu dan sisi sosial. Dari sisi individu ia membagi komunikasi menjadi yang bertipe obyektif (dari luar) yang melahirkan kegiatan dan cara tindak dan subyektif (dari dalam) yang melahirkan proses-proses psikis dan sikap. Sedangkan dari sisi sosial ia membagi komunikasi obyektif yang melahirkan interaksi dan relasi sosial, serta subyektif yang melahirkan komunikasi dan hubungan sosial.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Koncaid &amp;amp; Schramn menyatakan komunikasi sebagai sebuah proses, artinya komunikasi merupakan proses berbagi/menggunakan sebuah informasi secara bersama dan pertalian antara para peserta dalam proses informasi tersebut dinamakan komunikasi. Ciri adanya proses komunikasi menurutnya adalah : Harus ada 2 pihak atau lebih, dan ada proses berbagi informasi, sehingga harus selektif dalam memilih alat komunikasi dan memilih pola yang sesuai untuk menggambarkan pikiran. Lebih jauh ia menyatakan bahwa langkah-langkah dalam sebuah proses komunikasi adalah menciptakan informasi, menyampaikan informasi tersebut, memperdalam perhatian, menafsirkannya, memahaminya lalu melaksanakan, serta timbulnya pengertian bersama.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Adapun Berlo menyatakan komunikasi sebagai cara mempengaruhi orang lain. Komunikasi bermaksud mempengaruhi org lain, dimana unsur komunikasi menurutnya adalah adanya Source (sumber), Message (pesan), Channel (saluran), Receiver (penerima), dan Effect (akibat). Lebih jauh ia memberikan ilustrasi bahwa seorang dokter yg mendiagnosa pasien, maka ia bertindak sbg sebuah source, pasien sbg receiver, message-nya adalah masalah kesehatan, channel-nya adalah udara (karena merupakan pola komunikasi primer), dan effect-nya adalah perubahan sikap dari sang pasien tsb.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Tipe Komunikasi dan Jaringan Komunikasi&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam ilmu komunikasi, tipe komunikasi menurut Edward Sapir dibagi menjadi tipe komunikasi primer dan sekunder. Tipe komunikasi primer bersifat langsung, face to face baik dengan menggunakan bahasa, gerakan yg diartikan secara khusus ataupun aba2. Tipe komunikasi ini bisa berbentuk pertemuan (inter-personal), kelompok (kuliah) maupun massa (tabligh akbar). Betapapun besarnya, pengaruh komunikasi jenis ini tidak dapat melalui sebuah wilayah geografis yg sangat sempit dan terbatas. Sementara tipe komunikasi sekunder adalah komunikasi yg menggunakan alat, media seperti menggunakan surat (inter personal), menonton pagelaran nasyid (kelompok), maupun media koran atau TV (massa), yg berfungsi untuk melipatgandakan penerima, sehingga dpt mengatasi hambatan geografis dan waktu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jaringan komunikasi terdiri dari jaringan komunikasi tradisional (Lama), dan jaringan komunikasi modern (Baru) Pola komunikasi lama/tradisional, cirinya adalah berlangsung secara tatap-muka sehingga terjelma hubungan interpersonal yg mendlm, hubungan dg status yg berbeda (patron-client), serta pemberi pesan dinilai oleh penerima berdasarkan identitasnya (siapa bicara, bukan apa isinya). Sementara jaringan komunikasi modern, cirinya adalah adanya inovator (penggagas, pencipta media), dan melalui media massa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Alat untuk Menghancurkan Sebuah Generasi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pakar komunikasi Rogers &amp;amp; Shoemaker menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pesan yg disampaikan dari sumber kepada penerima. Komunikasi yg menyebar melalui media massa akan memiliki dampak vertikal (mengalami taraf internalisasi/penghayatan) apalagi jk para tokoh (opinion-leaders) ikut menebarkannya. Sementara pakar komunikasi lain, Lazarfield menyatakan bahwa jalannya pesan melalui media massa akan sangat mempengaruhi masyarakat penerimanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Peran merusak dari media komunikasi modern, khususnya TV terhadap sebuah generasi menurut penulis dapat dilihat dari dua aspek sbb :&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ã˜ Aspek kehadirannya : Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari2 dalam keluarga muslim dan muslimah. Sebagai contoh adalah, waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak2 muslim/ah untuk mengaji dan belajar agama berubah dengan menonton acara2 yang kebanyakan tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Sementara bagi para remaja dan orangtua, selepas bekerja atau sekolah dibandingkan datang ke pengajian dan majlis2 taâ€™lim atau membaca buku, kebanyakan lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Sebenarnya TV dapat menjadi sarana dakwah yang luarbiasa, sesuai dengan teori komunikasi yang menyatakan bahwa media audio-visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian seseorang maupun masyarakat, asal dikemas dan dirancang agar sesuai dengan nilai2 yg Islami.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ã˜ Aspek Isinya : Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa diantaranya adalah mengenai penokohan/orang2 yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama ataupun ilmuwan serta orang2 yang dapat mendorong bagi terbangunnya bangsa agar dapat mencapai kemajuan (baik IMTAK maupun IPTEK) sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur2kan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai2 agama. Hal ini jelas demikian besar dampaknya kepada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita2nya dan tentunya pada kualitas bangsa dan negara. Produk lain dari GF yang menonjol dalam media TV misalnya, adalah porsi film2 yang Islami yang hampir2 boleh dikatakan tidak ada, 90% film yang diputar adalah bergaya hidup Barat, sisanya adalah film nasional (yang juga meniru Barat), lalu diikuti film2 Mandarin dan film2 India. Hal ini bukan karena tidak adanya film2 yg islami atau kurangnya minat pemirsa thd film2 islami, karena penayangan film â€œthe messageâ€Â misalnya menimbulkan animo yg luar-biasa dikalangan masyarakat atau film seperti â€œChildren of Heavenâ€Â mampu mendapatkan award untuk film anak budaya terbaik dunia. Tetapi masalahnya memang lebih karena tidak adanya political-will dikalangan pengelola stasiun TV yg ada.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. Penutup&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Terakhir, perlu diketahui bahwa penjajahan melalui media komunikasi adalah jauh lebih jahat dan berbahaya dari penjajahan fisik. Dari sisi biaya, peperangan fisik membutuhkan biaya yg sangat mahal, sementara peperangan media hanya membutuhkan biaya yg murah dan bahkan dapat dikembalikan (melalui iklan). Dari sisi persenjataan yg digunakan, peperangan fisik menggunakan berbagai senjata canggih yg mahal dan berat, sedangkan peperangan media cukup menggunakan film2, diskusi topik dan iklan. Dari sisi jangkauan, peperangan fisik hanya dibatasi di front2 pertempuran saja, sementara penjajahan media bisa sampai ke setiap rumah&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;jauh di pelosok2 dan di pedalaman. Terakhir dari sisi obyek, dlm peperangan fisik obyek merasakan dan mengadakan perlawanan, sementara melalui peperangan media obyek sama sekali tidak merasa dan bahkan menjadikan penjajahnya sebagai idola. Maka menghadapinya, hanya sebagian kecil orang yg dirahmati ALLAH SWT sajalah yg mampu bersikap mawas, lalu berdisiplin melakukan filterisasi serta terus berjuang membebaskan masyarakat dari makar yg luar-biasa hebatnya ini, Maha Benar ALLAH SWT yg telah berfirman : â€œDAN SUNGGUH MEREKA ITU TELAH MEMBUAT MAKAR YG AMAT BESAR, DAN DISISI ALLAH-LAH (BALASAN) MAKAR MEREKA ITU. DAN SESUNGGUHNYA MAKAR MEREKA ITU HAMPIR-HAMPIR DAPAT MELENYAPKAN GUNUNG-GUNUNGPUN (KARENA BESARNYA).â€Â (Ibrahim, 14:46). Maka ambillah pelajaran wahai orang2 yg berakal…&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-2889031198189565311?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/2889031198189565311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=2889031198189565311' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/2889031198189565311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/2889031198189565311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/peran-media-komunikasi-modern-tv.html' title='Peran Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Sarana untuk Menghancurkan'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYW8kEDkwI/AAAAAAAAACA/Vx0IWwfjB48/s72-c/DSC00516.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-8398456587168995509</id><published>2007-06-05T18:26:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:48.001-08:00</updated><title type='text'>Peran Positif dan Negatif Media Massa dalam Pandangan Rahbar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYQk0EDkvI/AAAAAAAAAB4/MtZ-8idQ0AM/s1600-h/DSC00522.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYQk0EDkvI/AAAAAAAAAB4/MtZ-8idQ0AM/s400/DSC00522.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072760254916432626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Dewasa ini media massa dunia, baik cetak, audiovisual maupun vediovisual, termasuk pula internet, memiliki peran menentukan dalam kehidupan manusia &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Hanya saja peran penting media massa dunia ini bukan bukti kepositifan mereka semua. Para pakar dan ahli dalam masalah ini menyampaikan banyak kritik terhadap kinerja sejumlah media massa dan membeirkan usulan-usulan untuk memperbaiki peran mereka di tengah masyarakat. Pidato Ayatullah Udhma Sayid Ali Khamenei, Rhabar Revolusi Islam Iran, dalam pertemuan dengan sejumlah direktur dan para penyusun program media massa dari berbagai negara dunia, juga mengupas masalah ini. Seraya menekankan pengaruh luas media massa terhadap rakyat, beliau menilai garis kebijakan dan kinerja media massa Barat tidak sesuai. Beliau pun mengajukan petunjuk-petunjuk untuk mencapai iklim yang sesuai dunia media massa. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Beberapa hari lalu, dalam pertemuan dengan para peserta festifal internasional program-program radio, Rahbar Revolusi Islam berbicara tentang sebab pentingnya media massa di dunia kontemporer. Beliau berkata, “Dewasa ini media massa dunia telah mampu menanamkan pikiran, kebudayaan, perilaku, dan pada hakekatnya, identitas kebudayaan manusia; dan sangat menentukan.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Akan tetapi, oleh karena pengaruhnya yang sedemikian luas, maka fasilitas untuk menjalin hubungan massal ini dapat memainkan perannya yang positif dan konstruktif, dapat pula memberikan perannya yang negatif dan destruktif. Berkaitan dengan masalah ini, Sayid Ali Khamenei berkata, “Media massa dapat berperan dalam meningkatkan kondisi hidup manusia dan menyebarkan persamaian serta keamanan di dunia. Mereka ini mampu memperkuat nilai-nilai akhlak dan spiritual di tengah umat manusia, dan menghantarkan manusia menuju kebahagiaan. Sebaliknya, media massa juga dapat dijadikan sebagai alat pengobar perang dan menyebarkan perilaku dan kebiasaan buruk di tengah rakyat luas. Ia juga dapat memusnahkan identitas berbagai bangsa, dan menghidupkan semangat rasialisme.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Melihat berbagai realitas yang ada di dunia media massa, sejumlah besar bangsa, terutama mereka yang berpikiran luas dan memiliki jiwa merdeka, mengkritik kinerja  berbagai massa dunia yang berkuasa di dunia. Kondisi media massa, sebagaimana kondisi umum dunia, penuh dengan rasialisme dan ketidakadilan. Hak milik media-media massa besar dan berpengaruh, berada di tangan para pemilik kekuatan dan kekayaan, dimana garis-garis kebijakan kerjanya ditentukan oleh para pencari keuntungan dan negara-negara imprialis. Sebaliknya negara-negara berkembang memiliki kekuatan media massa yang lebih kecil dan pengaruh mereka terhadap iklim propaganda dunia sangat terbatas.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Melihat realitas ini, Ayatullah Udhma Sayid Ali Khamenei menilai kondisi media massa dunia tidak menggembirakan. Beliau berkata, “Hari ini jalan media massa dan komunikasi tidak bersifat dua arah atau beberapa arah, tapi satu arah. Artinya, hanya yang disukai oleh para pemilik kekuatan media dan imperium media massa sajalah yang terrefleksikan ke seluruh pelosok dunia, dengan menggunakan ilmu dan teknologi moderen.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bisa dipastikan, bahwa para pemegang kekuatan dan para investor kelas kakap dunia, hanya mengincar kepuasan diri sendiri dan sangat sedikit memperhatikan dasar-dasar kemanusiaan dan moral. Berkenaan dengan ini, Rahbar Revolusi Islam berkata, “Hari ini imperium media massa dunia, hampir sepenuhnya berada di bawah monopoli mereka yang tidak menghormati kemuliaan akhlak, agama, iman, spiritual dan perdamaian di dunia ini. Para penguasa media massa dunia ini pula yang memiliki pabrik-pabrik terbesar produsen senjata. Bom-bom atom yang paling destruktif berada di tangan mereka atau berhubungan dengan mereka. Politik-politik imperialistis merupakan bagian dari pekerjaan mereka sehari-hari.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sekilas perhatian kepada kinerja dan metode kerja berbagai media massa besar dunia akan menunjukkan bahwa dengan sangat mudah mereka mampu menampilkan sebuah persoalan kecil menjadi permasalahan besar, bahkan sesuatu yang tidak riil mereka tampilkan sebagai realitas dan mereka besar-besarkan. Sebaliknya mereka juga mengabaikan sebuah peristiwa besar dan tidak pernah memberitakannya sehingga cepat terlupakan. Rahbar revolusi Islam membawakan beberapa contoh kinerja media massa tersebut dengan mengatakan, “Perhatikanlah politik dan cara kerja media massa dunia. Kemaslahatan mereka menuntut pemberian stigma teroris kepada Islam, dan sebaliknya, menampilkan AS sebagai lambang demokrasi dan HAM. Pekerjaan ini dilakukan dengan mudah dan dengan cara-cara rumit serta sangat moderen propaganda.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sayid Ali Khamenei melanjutkan, “Tiba-tiba dunia penuh dengan berita bahwa Iran tengah berusaha menciptakan bom nuklir. Mereka sendiri yang mengobarkan propaganda ini tentu mengetahui bahwa semua itu adalah bohong. Akan tetapi interes dan kepentingan menejemen imperium media massa dan dunia informasi menuntut hal itu. Dalam masalah Palestina, ketika sebuah bom meledak dan sejumlah warga zionis terluka karenanya, maka peristiwa ini mereka beritakan sebagvai sebuah tragedi besar di dunia. Sebaliknya, pembunuhan massal yang tiap hari terjadi di Palestina oleh tentara rezim zionis, dan pernyataan resmi teror terhadap para pemimpin dan aktifis Palestina oleh para pejabat Israel, didiamkan dan tidak dimuat sama sekali oleh media massa mereka.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Rahbar Revolusi Islam menilai peran media massa seperti ini bukan hanya negatif, tapi juga tidak sesuai dengan kebebasan dan berlawanan dengan kemerdekaan. Pada akhirnya pun masyarakat luaslah yang merugi akibat kinerja mereka ini. Sebaliknya beliau meyakini, jika di tingkat internasional, menejemen dan penyusunan program dilakukan berdasarkan standar-standar moral, keutamaan, kesetaraan dan bersandar kepada nilai-nilai kemanusiaan, maka seluruh umat manusia akan mendapatkan keuntungan dan manfaat yang besar.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Pada dasarnya, salah satu tujuan media massa besar dunia sata ini ialah menjauhkan seluruh bangsa dari realitas dan kenyataan sebenarnya yang berlaku di dunia ini. Dengan cara ini mereka berusaha mengendalikan dan membentuk opini umum warga di setiap negara, sesuai dengan kehendak mereka. Sebagai contoh, media-media massa Barat selalu berusaha menampilkan rakyat Iran dengan tampilan yang tidak benar dan tidak riil di mata warga Eropa dan Amerika. Berkenaan dengan masalah ini, Rahbar Revolusi Islam berkata, &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; “Kalian lihatlah, jika saat ini rakyat AS mendengar langsung pandangan-pandangan bangsa Iran tentang masalah-masalah penting di dunia saat ini, baik tentang HAM, demokrasi agama, peran perempuan dalam kehidupan sosial, pandangan Islam tentang perempuan, maka akan terjadi perubahan-perubahan penting di dunia ini. Sejumlah besar kesalahpahaman akan terhapus, banyak persoalan yang akan terselesiakan.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Kemudian Rahbar Revolusi Islam mengambil kesimpulan dari semua itu dengan mengatakan bahwa hari ini, dengan menyalahgunakan pengaruh media massa, para pejabat politik telah menjerumuskan rakyat mereka sendiri ke dalam kebodohan. Celakanya mereka ini justru mengambil untung dari kebodohan rakyatnya, termasuk dengan mengatasnamakan rakyat untuk melakukan banyak perbuatan mereka yang destruktif.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Singkatnya, dapat dikatakan bahwa jika dasar-dasar moral dan kemanusiaan serta nilai-nilai spiritual, berlaku secara efektif dalam sistim dan kinerja media massa dan informasi, maka dunia ini akan dipenuhi dengan suasan yang jauh lebih baik, hubungan antara satu bangsa dengan bangsa lain akan lebih mesra, peluang munculnya peperangan pun akan semakin menyempit, hasilnya dunia akan penuh dengan suasana aman dan tentram.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-8398456587168995509?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/8398456587168995509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=8398456587168995509' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/8398456587168995509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/8398456587168995509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/peran-positif-dan-negatif-media-massa.html' title='Peran Positif dan Negatif Media Massa dalam Pandangan Rahbar'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYQk0EDkvI/AAAAAAAAAB4/MtZ-8idQ0AM/s72-c/DSC00522.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-3173574292239358933</id><published>2007-06-05T18:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:48.320-08:00</updated><title type='text'>Sederhana tapi Kreatif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYOAEEDkuI/AAAAAAAAABw/f7MjFv-xMQw/s1600-h/Man.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYOAEEDkuI/AAAAAAAAABw/f7MjFv-xMQw/s400/Man.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072757424532984546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;KESEDERHANAAN bukanlah ketertinggalan. Itulah yang juga berusaha dibuktikan oleh siswa-siswi Qaryah Thayyibah (QT). &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;arena itu, mereka juga menempatkan internet sebagai salah satu kebutuhan utama, meski tak mau disebut tergantung. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mulanya, 12 siswa angkatan pertama QT memulai kebiasaan berinternet itu. Mereka menyisihkan uang jajan untuk menabung sebelum akhirnya mampu membeli komputer. "Rata-rata para siswa mengantongi uang Rp 3.000. Uang saku tersebut sengaja disamakan dengan rata-rata kebanyakan anak yang bersekolah di Kalibening," kata Ahmad Bahruddin, penggagas QT.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun, bagi anak-anak QT, Rp 3.000 itu cukup banyak. Mereka tak perlu mengeluarkan ongkos transportasi. Karena itu. sebagian bisa ditabung. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pertama kali, Bahruddin akan menghitung berapa rupiah yang dibutuhkan anak-anak untuk membeli sebuah unit komputer. Katakanlah Rp 2 juta, maka anak-anak ditarget menyisihkan Rp 1.000 setiap harinya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut dia, anak-anak lantas akan menabung bersama-sama untuk membeli komputer. Komputer pertamanya mampu dibeli dalam jangka waktu tiga bulan. Jadi, tegas dia, jangan heran apabila melihat rumah-rumah dengan kandang sapi juga memiliki komputer.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Alokasi Rp 2.000 dari uang saku kembali pada asupan gizi siswa, termasuk makanan dan buku. Gizi yang berhubungan dengan asupan tubuh dikedepankan pula oleh QT. Dana Rp 1.000 setiap siswa, apabila dikumpulkan, dapat diolah menjadi makanan dan minuman bergizi. Bahruddin menyebutkan salah satunya adalah susu madu. "Sebagaian uang yang terkumpul untuk membeli susu dan madu. Kami tinggal memasaknya dan anak-anak bebas minum. Bergizi toh," ungkapnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Begitu juga dengan buku. Walau menurut Bahruddin koleksi buku mereka belum banyak, namun pria gondrong tersebut tak mengelak apabila para siswanya enggan lepas dari buku. Tapi, internetlah yang membikin siswanya kecanduan informasi. Maklum, di rumah Bahruddin, para siswa dapat mengakses internet bebas selama 24 jam. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di luar semua usahanya tersebut, bapak tiga anak itu tak membantah apabila sering terdapat kesulitan dan hambatan. Datangnya beragam, termasuk dari keraguan masyarakat. "Tapi kami menggunakan strategi pro-active, bukan re-active. Kami selalu berpositif thinking," tegasnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apabila terdapat kesulitan QT selalu mencari sumber daya yang tersedia yang dapat dioptimalkan. Misalnya tak ada meja kursi, bisa melakukan pembelajaran sambil lesehan. Tak ada dana besar untuk membayar listrik, maka semaksimal mungkin proses pembelajaran dilakukan di siang hari.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diakui Bahruddin, ada satu dua yang merasa tak cocok dan memutuskan keluar. "Mungkin yang diutamakan masih soal ijazah. Sedang bagi kami, ijazah bukanlah segalanya," katanya. &lt;br/&gt;Dia mendidik para buah hatinya, tegas dia, bukan untuk membekali dengan selembar ijazah yang digunakan untuk mencari pekerjaan. Dia ingin siswa QT dapat mandiri dan menciptakan pekerjaan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-3173574292239358933?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/3173574292239358933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=3173574292239358933' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3173574292239358933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3173574292239358933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/sederhana-tapi-kreatif.html' title='Sederhana tapi Kreatif'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmYOAEEDkuI/AAAAAAAAABw/f7MjFv-xMQw/s72-c/Man.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-4413338264458057659</id><published>2007-06-03T22:42:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:48.599-08:00</updated><title type='text'>Kartun dan Karikatur dalam Pers</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmOzY79UZxI/AAAAAAAAABo/jLSIEtcVyt8/s1600-h/downloadfile.php.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmOzY79UZxI/AAAAAAAAABo/jLSIEtcVyt8/s400/downloadfile.php.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072094846342424338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;KARIKATUR atau kartun tidaklah sketsa yang dijelek-jelekkan dan bukan pula sekedar coretan yang dilebih-lebihkan. Karikatur bukanlah pula hanya sketsa yang karikatural, tetapi teks yang ingin menyampaikan hal yang aktual &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut Prof. Imam Buchori Zainuddin, salah seorang dosen FSRD ITB, kartun adalah gambar, yang melukiskan adegan tentang perilaku manusia dengan berbagai kiprahnya dalam kehidupan sosial, baik diungkapkan secara simbol atau representasional dengan cara-cara humor, atau cara-cara yang satiris. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bahkan Erich Kaestner, seorang sastrawan Jerman termasyur, menilai kartun memiliki daya ekspresi yang luar biasa. Sebagai sarana non-aksara, Kaestner menganggap kartun memiliki unsur cerpen. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kartun adalah pula sebuah bentuk wacana atau berita pikiran tentang "sesuatu". Dengan simbol-simbol yang bercorak sinekdote - memperlihatkan sebagian untuk mengatakan keseluruhan - dan tentu saja, karikatural berita - pikiran yang disampaikan tak lain daripada sebuah ajakan berdialog yang intens dengan kekuasaan, masyarakat umum atau dengan siapa saja. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Simbol-simbol karikatural yang dengan kreatif menonjolkan unsur-unsur yang lucu dan di luar kebiasaan itu bukan saja memberikan kebebasan bagi sang kartunis untuk menyampaikan berita - pikirannya tetapi juga secara cerdik mengalihkan daya tusuk dari dialog yang intens tersebut. Dengan begini, maka yang getir dan pahit dapat disampaikan sebagai keanehan yang lucu saja. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi kartun haruslah dipahami sebagai media yang dipakai oleh kartunis untuk menangkap dan menafsirkan berbagai keprihatinan yang hidup dalam masyarakat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut sejarah, "Cartoon" lahir sejak abad pertengahan seiring dengan semangat humanisme yang meletakkan manusia sebagai objek dan subjek untuk mengenal berbagai hakekat kehidupan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karikatur sendiri diketahui berasal dari bahasa Itali "caricare", yang berarti memuat atau menambah muatan secara berlebihan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dengan kata lain, karikatur adalah reformasi lebih atas objek yang terkenal dengan cara mempercantik dari ciri yang paling menonjol atas objek tersebut. Dengan demikian, karikatur yang baik sudah bisa dipastikan mempunyai kadar humor, estetika dan yang paling penting sarat nilai kritik. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan kritik karikatur sebenarnya hanya usaha penyampaikan masalah aktual ke permukaan, sehingga muncul dialog antara yang dikritik dan yang mengkritik, serta dialog antara masyarakat itu sendiri, dengan harapan akan adanya perubahan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Pahit tapi positif&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dewasa ini kartun dan karikatur telah merambah jauh, selain untuk kritik sosial, juga untuk media pendidikan anak dan berbagai program sosialisasi, untuk maksud promosi dan komunikasi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tak pelak lagi, kartun dan karikatur pun akhirnya memasuki persoalan susila atau tidak susila yang merupakan sukma utama dari kesenian pada umumnya. Melalui kartun kita dapat menyampaikan kritik yang langsung sampai pada sasaran, tapi tidak menyinggung objeknya (manusianya), yang seringkali malah tertawa. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seorang karikaturis ataupun kartunis, tidak perlu berbenturan langsung dengan suatu kekuasaan. Tetapi bagaimana kecerdikan mereka untuk mengakali suatu kekuasaan takluk oleh sebuah kerendahan hati. Atau kata Jaya Suprana "Positioning", bagaimana seni menempatkan diri. Kendatipun dengan nada kritik yang benar-benar pahit, namun secara keseluruhan karyanya tetap positif. Kritik dan ejekan yang dilemparkan dilandasi oleh sikap optimis dan hasrat reformis.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Fenomena ini akan berlanjut terus, lebih-lebih dalam alam keterbukaan politik dan globalisasi informasi ini. Disini, para kartunis dan karikaturis dituntut memiliki kreativitas, kredibilitas (diantaranya kemampuan teknik drawing) dan cakrawala berpikir yang luas. Dan tetap setia mempertahankan keunikannya sebagai humanis - humoris.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Kartun dalam pers Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di Indonesia, kartun muncul sekitar tahun 1930-an. Dipelopori oleh Surono, Karyono, dan Norman Camil. Dekade 50-an, Kartun karya Abdulrachim (Al) dan Muhammad Budino (Mobo) muncul di Majalah Terang Bulan. Pada tahun itu pula, Indri Sudono dan Sunarso muncul di Penyebar Semangat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Booming pertama kartun terjadi di medio 60-an, saat nama-nama seperti Arwah Setiawan, Pramono, Jhonny Hidayat, GM Sudarta, T Sutanto menghiasai berbagai media. Booming kedua terjadi di penghujung dekade 80-an, saat para kartunis tumbuh bak jamur di musim hujan. Wadah para kartunis, menyebar di berbagai kota. Sebut saja diantaranya, SECAC (Semarang Cartoon Club), WAK SEMAR (Wadah Kartunis Semarang), PAKYO (Persatuan Kartunis Yogya), PAKARSO (Persatuan Kartunis Solo), KOKKANG (Kelompok Kartunis Kaliwungu), dan KARUNG (Kerabat Kartunis Bandung). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bahkan, terbentuk sebuah wadah besar para kartunis Indonesia, yang bernama PAKARTI (Persatuan Kartunis Indonesia).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wadah-wadah itu, berupaya mengembangkan sekaligus menghilangkan citra bahwa karikatur dan kartun sebagai bentuk ungkapan senirupa, seringkali hanya dianggap sebagai aktivitas marginal dari seniman grafis, karena karyanya banyak yang tidak bernilai secara ekonomis.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Belum lagi, kini para pengelola pers tidak bisa menyangkal lagi dan sangat mengerti arti penting kehadiran kartun dalam media massa. Kartun telah menyatu dengan pers. Mengingat bahwa kartun dapat sebagai penyejuk bagi pembaca setelah membaca artikel-artikel berat dengan sederetan huruf yang cukup melelahkan mata dan pikiran. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ia dibutuhkan sebagai penangkal kepenatan, untuk rekreasi dan hiburan ringan. Malah, jika dipandang dari sudut lain, penyampaian berita disertai penyajian gambar akan mudah diingat, apa lagi dalam bentuk kartun dan karikatur. Dapat dikatakan kartun dan karikatur berkembang bersama pers.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Keberadaan kartun dan karikatur dalam pers kini semakin mantap. Orang kadung jatuh cinta terhadapnya. Kehadirannya dalam penerbitan pers sudah menjadi barang yang selalu dinanti. Hampir setiap penerbitan menyediakan rubrik ini. Karena disadari oleh para penerbit, rubrik tersebut punya daya jual terhadap produk dagangannya itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Terakhir, sebagai kritik sosial, sudah seharusnya kartun dan karikatur dalam pers di Indonesia selalu mengingatkan hal-hal yang mungkin terlupakan atau terabaikan dalam kegelisahan terhadap perubahan politik negaranya. Kartunis dan karikaturis yang membawa pesan dan kritik itu, diharapkan dapat berperan dengan hati nuraninya. Bukannya malah memperkeruh suasana!***&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-4413338264458057659?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/4413338264458057659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=4413338264458057659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4413338264458057659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4413338264458057659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/kartun-dan-karikatur-dalam-pers.html' title='Kartun dan Karikatur dalam Pers'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmOzY79UZxI/AAAAAAAAABo/jLSIEtcVyt8/s72-c/downloadfile.php.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-5951512591874326393</id><published>2007-06-03T21:42:00.000-07:00</published><updated>2007-06-03T21:45:53.124-07:00</updated><title type='text'>Membekali Siswa Sejak Dini Dengan Keterampilan dan Kecerdasan Berkomunikasi</title><content type='html'>Integrasikan Life Skill dalam Kurikulum &lt;br/&gt;Kemampuan akademik belum cukup untuk membekali siswa. Keterampilan dan kepandaian berkomunikasi juga sangat dibutuhkan. Sebagian sekolah telah menanamkan materi yang biasa disebut dengan life skill atau soft skill itu sejak dini.&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;BAMBANG geleng-geleng kepala karena tak habis pikir. Guru SD Al Hikmah Surabaya itu menerima kabar bahwa kawannya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Padahal, gajinya mencapai belasan juta rupiah perbulan. "teman saya itu keluar karena tidak mampu berkoordinasi dengan kawan-kawan satu timnya," kata pria yang sudah delapan tahun mengajar bahasa Indonesia itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dia mengakui, selama ini sekolah kerap hanya fokus pada persoalan akademik siswa. Kemampuan yang diberikan hanya bersifat teknis atau keilmuan menyangkut pekerjaan kelak. Sementara bidang-bidang lain yang menyangkut bekal komunikasi di kehidupan nyata sering terlupakan. "Pembelajaran tidak hanya ditekankan pada kemampuan akademik. Harus dipahami bahwa Penanaman life skill sangat penting. Dan itu harus dilakukan sejak dini," imbuh bapak satu anak itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tak ingin hal serupa terjadi pada siswa-siswinya kelak, Bambang selalu memutar otak bersama guru yang lain untuk menyusun pembelajaran yang di dalamnya termasuk penanaman life skill. Pemikiran itu didasarkan pada pertimbangan bahwa sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Apalagi banyak orang tua siswa yang merupakan pekerja super sibuk.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Martadi MSn, pakar pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menerangkan bahwa secara umum life skill dibagi dua, yakni generik dan spesifik. Generik mencakup kecapakan personal dan sosial, serta kecakapan berkomunikasi dan bekerja sama. Kecakapan life skill generik inilah yang harus diberikan sejak dini. Guru harus kreatif menyusun kegiatan. "Sedangkan life skill spesifik sudah termasuk dalam ranah menghadapi pekerjaan. Yakni akademik dan vocational atau kejuruan," katanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa yang diungkapkan Martadi tersebut sudah pula diterapkan beberapa sekolah di tanah air. Salah satunya adalah SD Al Hikmah Surabaya. Full day school tersebut mendesain kegiatan sekolah sesuai dengan tujuan penerapan life skill yang ingin dicapai. "Biasanya kami masukkan langsung pada Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang kami susun setiap hari," kata Bambang .&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk life skill dasar, biasanya guru ingin agar siswanya mampu bekerja dalam tim, mampu memberi penghargaan terhadap sesama, cinta lingkungan, keberanian, kemandirian, tanggung jawab, dan penanaman budi pekerti. "Integrasi penanaman life skill dengan kurikulum akan lebih mudah apabila kita menggunakan model pengajaran bertema," ungkapnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Banyak contoh penanaman life skill yang telah dilakukan oleh sekolah tersebut. Sebagian besar bersifat outdoor. Misalnya, menanam tanaman obat keluarga (toga). "Kami integrasikan dengan pelajaran sains. Belajar tanaman obat sekaligus menanamkan life skill," kata Guru Kontributif Jawa Timur pilihan Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam kegiatan tersebut, siswa kelas dua dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok harus bertanggung jawab atas satu tanaman yang ditanam hingga tumbuh besar. Dari kegiatan kelompok tersebut, para siswa akhirnya berinteraksi. Siswa yang memiliki bakat kepemimpian akan menonjol karakternya. Yang pendiam, awalnya memang mengalami kesulitan untuk berbaur. "Kalau sudah begitu, guru turun untuk memotivasi, sebagai fasilitator. Kami meminta sang ketua untuk melibatkan siswa yang kurang aktif," tuturnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tak berhenti hingga taraf penanaman, sekolah juga meminta anak untuk membikin laporan pertumbuhan tanaman. Bahkan, ketika tanaman sudah dipanen, para siswa diminta untuk membikin bazar di sekolah dan menjual obat mereka kepada orang tua. Mereka diminta mandiri untuk menawarkan dan melayani. "Dengan cara itu, pembelajaran sudah memberikan dua bekal. Yakni akademik dan life skill," katanya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut Bambang, melalui kegiatan kerja sama dalam tim, sifat-sifat anak akan terungkap. Guru akan mengetahui siapa saja yang memerlukan motivasi lebih. Setelah itu, sekolah akan menyampaikan kepada para orang tua.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kegiatan outdoor untuk menumbuhkan life skill pada siswa juga dilakukan SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS). Untuk program yang mereka namai character building, sekolah menyiapkan leadership camp. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok dan diminta menginap di sekolah. "Mereka diuji untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik. Apabila mereka pemimpin, jadilah pemimpin yang baik," papar Dwipriyo Setyowahono, kepala sekolah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Melalui kemah di sekolah, siswa akan menikmati pengalaman baru. Misalnya, bagaimana rasanya mengantre mandi, mengatur jadwal tidur agar esoknya tak kesiangan, serta belajar kemandirian lain. "Yang juga kami tekankan adalah sosialisasi dengan komunitas lain," imbuhnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;SAIMS juga melakukan kegiatan home stay. Caranya, sekolah menitipkan para siswanya di rumah-rumah warga. Sebuah lokasi biasanya mereka pilih pada saat liburan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Home stay adalah salah satu kegiatan andalan sekolah tersebut dalam menggodok mental siswa. Dengan kegiatan itu, lanjut Dwi, siswa akan belajar menghargai orang lain dan beradaptasi. "Guru memang harus menjadi garda terdepan untuk menyukseskan program tersebut. Karena itu, Ide-ide baru harus selalu ditelorkan," katanya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setelah pelaksanaan program life skill, para guru tak boleh tinggal diam. Guru harus mampu memetakan siswa. Misalnya, apakah siswa yang semula dianggap kurang di suatu hal sudah mampu memperbaiki kekurangan? "Laporan biasanya ditulis dalam ketuntasan ketrampilan khusus," kata Bambang. Setelah guru mengambil kesimpulan mengenai perkembangan siswa. Guru tak boleh lupa untuk juga menyampaikan pada orang t&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-5951512591874326393?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/5951512591874326393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=5951512591874326393' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/5951512591874326393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/5951512591874326393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/06/membekali-siswa-sejak-dini-dengan.html' title='Membekali Siswa Sejak Dini Dengan Keterampilan dan Kecerdasan Berkomunikasi'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-3542355487651581453</id><published>2007-05-19T20:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:48.675-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Seks, Seperti apa?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Rk_VQL9UZtI/AAAAAAAAABI/sp1uK3EW994/s1600-h/ARTS_202.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Rk_VQL9UZtI/AAAAAAAAABI/sp1uK3EW994/s400/ARTS_202.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5066502579879700178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;Orangtua sering tak menyadari, anak-anak mereka dianggap lugu dan pendiam. Di luar sana, pergaulannya lebih gila!. Mengalahkan orang dewasa.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhir 1997, majalah Gatra-bekerja sama Laboratorium Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (LIP FISIP-UI)-- menjaring 800 responden remaja berusia 15-22 tahun di Jakarta. Hasilnya, sebanyak 45,9% (367 responden) memandang berpelukan antarlawan jenis adalah hal wajar, 47,3% (378 responden) membolehkan cium pipi, 22% tak menabukan cium bibir, 11% (88 orang) oke saja dengan necking alias cium leher atau cupang, 4,5% (36 responden) tak mengharamkan kegiatan raba-meraba, 2,8% (22 responden) menganggap wajar melakukan petting. Dan 1,3% (10 responden) tak melarang senggama di luar nikah. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebuah baseline survey di Semarang yang melibatkan 127 orang responden, yang dilakukan Pilar-PKBI Jawa Tengah yang bekerjasama dengan Tim Embrio 2000, pada tahun 2000 di Semarang menujukkan bahwa 48% responden pernah meraba daerah sensitif saat berpacaran, 28% responden telah melakukan petting dan 20% melakukan hubungan seksual.3 &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setiap tahun dari 3000 remaja --sekitar 1 diantara 4 remaja yang secara seksual aktif tertular Penyakit Menular Seksual (PMS). Survei juga didapati,  bila remaja memiliki rata-rata tertinggi tertular gonorrhea dibanding dengan orang dewasa yang seksual aktif dan wanita berumur 20-44 tahun. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Inilah angka-angka menakutkan berkaitan dengan perkembangan remaja kita hari ini. Persoalan ini menunjukkan kepada kita bahwa perkembangan seksualitas anak dan remaja kita, dari tahun ke tahun semakin bertambah. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Masalahnya, perkembangan itu bukan bertambah baik tapi justru semakin mengerikan. Sebab, umumnya, perkembangan hubungan seksualitas anak dan remaja kita diakibatkan adanya persepsi yang keliru mengenai pacaran. Banyak orang tua tertipu penampilan anak-anak mereka. Di rumah, dia adalah anak yang sopan, pendian dan terkesan lugu. Namun diluar sana, dia justru mengahkan orang-orang dewasa. Bahkan, mungkin lebih gila dari sekedar itu. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Konseling Sahaja-PKBI DIY pernah meneliti menyangkut persoalan remaja, khususnya menyangkut hubungan pacaran. Penelitian –yang sebenarnya merupakan rekap konsultasi itu—dilakukan sejak tahun 1998 hingga 1999 dilakukan terhadap 1.514 klien. Berdasarkan laporan itu, hampir separuh (48 persen) dari 1.514 klien yang melakukan konsultasi, mengalami permasalahan seputar pacaran. Misalnya; persoalan komunikasi (30 persen), taksir-menaksir (25 persen), perselingkuhan (4 persen) serta permasalahan patah hati, kekerasan, persiapan pernikahan, beda agama, konflik dengan pihak ketiga dan lain sebagainya. Namun yang lebih menarik dari penelitian itu adalah keberanian para anak dan remaja kita dalam melakukan aktifitas seksual yang seharusnya hanya dilakukan oleh pasangan suami-istri yang syah. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengapa terjadi masalah seperti ini? Jawabannya mungkin panjang. Hanya saja, salah satu factor utama adalah masalah berkaitan dengan pendidikan seksual anak-anak kita. Atau bisa juga disebut dengan ‘pendidikan kedewasaan’. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Istilah pendidikan seks, sering dipahami keliru banyak orang seolah-olah mengajarkan pendidikan  hubungan intim layaknya apa yang dilakukan suami-istri. Padahal, yang dimaksud dari makalah ini adalah tidaklah demikian. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sering kita menghadapi pertanyaan sepele dari buah hati kita menyangkut masalah seksual. Misalnya; saat anak bertanya, “Umi, dari mana adik lahir? Kenapa ibu bisa hamil? Pacaran itu boleh nggak sih? Umi, kenapa sih wanita bisa hamil sedang pria tidak? &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Biasanya, para orangtua, senantiasa menghadapi pertanyaan ini dengan emosional. Ada tiga cara yang dilakukan orangtua: &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama, Pertama, langsung menampar atau membentak. “Husss! Anak kecil tak boleh bicara itu. Awas kalau diulangi lagi!. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, berusaha menutup-nutupi atau mengalihkan perhatian anak. Dan yang ketiga, langsung menjawabnya, meski dalam kondisi hati seperti gunung berapi yang ingin ‘meledak” dan dengan jawaban yang pas-pasan. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga, Tapi pilihan yang terakhir hanya dilakukan segelintir orang saja. Yakni mendampinginya dengan jawaban-jawaban sesuai kebutuhannya. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa Tips &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Di bawah ini ada beberapa [10 tips ] yang kami ambilkan dari berbagai sumber, bagaimana seharusnya para orangtua menjawab anak; &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; ·         Mulailah dengan berdoa dan membaca Bismillah. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Agar Allah SWT tetap menuntut Anda dan menurunkan ilham untuk memberikan jawaban yang bukan saja dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah namun yang lebih penting adalah dapat dipertanggungjawabkan secara aqidah. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Mulailah sejak awal&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ajarilah anak-anak  tentang perbedaan jenis kelamin  dengan lemah lembut, dilanjutkan sesuai arah informasi sejak awal mungkin. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Berikan informasi yang Tepat. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pelajari apa yang anak-anak peroleh dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Lalu siapkan informasi yang jauh lebih bermutu untuk Anda sampaikan padanya. Jangan memarahinya. Jika benar-benar tidak mengerti, berjanjilah akan mencari tahu dan jangan menjawab sekenanya. “Maaf Ibu tak mengerti, nanti ibu tak cari tahu ya nak?” &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gunakanlah istilah-istilah yang tepat. Menyangkut bagian tubuh seperti telinga, mata dan hidung dengan nama yang sesungguhnya. Katakanlah “penis, “ bukan “burung” atau “titit”. Sebut “vagina” dan “vulva” bukan “itunya adik.”  &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; ·         Jangan Merasa Ngeri &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Jelaskan di mana saja, setiap ada kesempatan &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Waktu yang tepat adalah disaat melihat hewan sedang kawin. Tapi biasanya, banyak orangtua melelaui kesempatan emas ini dengan cara memalingkan perhatian. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Banyak Mendengar &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Tidak Menghakimi &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Jelaskan sesuai Umur &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Jadilah Role Model [uswatun hasanah] bagi anak &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sex Edu menurut Al-Quran? &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;            Pendidikan seks atau dikenal dengan istilah ‘sex education’ (atau Sex Edu) bukanlah sesuatu yang tabu. Yang pernah mengenyam dunia pesantren, khususnya menjelang lulus, sering mendapatkan tambahan pelajaran khusus tentang bab ‘kedewasaan’. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di pesantren-poesanten NU, ada kitab kuning yang dikenal blak-blakan. Diantaranya adalah; Masailun nisa (masalah wanita), 'Uqud al-Lujayn (ikatan suami-istri), Qurrotul ‘Uyun (penyejuk mata).[1] Atau kitab-kitab lain. Di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, biasanya memakai “Minhajul Muslim”. Di beberapa pesantren ada yang memakai “Fikih Nisa’”  atau “Fikih Munakahat”, &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;            Yang jelas, bagi yang mengenal pesantren, pendidikan seperti itu jauh hari sudah diajarkan dengan baik. Tentu saja, ini diajarkan untuk anak-anak yang matang dan dianggap sudah baligh. &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;            Islam sendiri, telah memberikan panduan –yang menurut saya, sebagai pendidikan seks—dalam Al-Quran. Diantaranya adalah: &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Pelajaran tentang Malu bagian dari Iman &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Memilihkan teman yang baik. “Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ikut memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.” (Hadis Riwayat Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri) &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;·         Adab Meminta Izin &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Hari orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin kepadamu tiga kali (dalam sehari) yaitu; sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian luarmu di tengah hari, dan sesudah sembayang isya’. Itulah tiga aurat bagimu, Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani sebagaian kamu (ada keperluan) kepada sebagaian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. An-Nur (24): 58) &lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memisahkan Kamar&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menjaga Pandangan dan Menutup Aurat&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mempercepat Menikah atau “berpuasa”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-3542355487651581453?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/3542355487651581453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=3542355487651581453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3542355487651581453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3542355487651581453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/pendidikan-seks-seperti-apa.html' title='Pendidikan Seks, Seperti apa?'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Rk_VQL9UZtI/AAAAAAAAABI/sp1uK3EW994/s72-c/ARTS_202.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-4047966533703902606</id><published>2007-05-19T19:57:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:48.843-08:00</updated><title type='text'>Model Pendidikan Luar Sekolah hasil Pemikiran Asah Pena</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Rk_WLr9UZuI/AAAAAAAAABQ/iPqpVkGnsBo/s1600-h/rose.jpeg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Rk_WLr9UZuI/AAAAAAAAABQ/iPqpVkGnsBo/s400/rose.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5066503602081916642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Homschooling untuk Gakin&lt;br/&gt;Dalam beberapa tahun terakhir, homeschooling (HS) merebak di beberapa kota di Jawa Timur. Tak hanya untuk kalangan berada&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;Homschooling untuk Gakin&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam beberapa tahun terakhir, homeschooling (HS) merebak di beberapa kota di Jawa Timur. Tak hanya untuk kalangan berada, sekolah rumah itu juga bakal bisa diterapkan terhadap keluarga tak mampu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;BELUM ada data pasti berapa jumlah anak yang belajar atau bersekolah di rumah alias ber-homeschooling di Indonesia. Namun, saat ini kian banyak orang tua yang berminat memberikan pembelajaran di rumah. Apalagi HS sebagai salah satu pendidikan alternative sudah terakomodasi dalam sistem pendidikan nasional.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Simak saja bunyi Undang-Undang Sisdiknas pasal 27 ayat 1 Di sana disebutkan, "Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri". Ayat 2 menyebutkan, "Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud ayat 1 diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan". Melalui payung hukum itu, mereka yang belajar di rumah sudah tak perlu was-was tentang legalitas sistem pembelajaran mereka. Semuanya sah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun demikian, citra homeschooling di masyarakat masih beragam. Sebagian menganggap homeschooling mahal. Pasalnya, berbagai macam fasilitas harus dipenuhi sendiri. Misalnya alat-alat laboratorium yang jamaknya disediakan sekolah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menanggapi hal itu, Daniel M. Rosyid, ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur menegaskan bahwa siapa pun dapat ber-homeschooling. Menurutnya, model pendidikan rumah itu justru hadir bagi mereka yang tak mampu dalam hal finansial. Misalnya, keluarga miskin (gakin). "Sebab, anak-anak miskin tidak perlu mengeluarkan ongkos seragam sekolah, SPP, maupun uang gedung. Dengan demikian, jatuhnya biaya lebih murah dibandingkan pendidikan formal," jelasnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Persoalannya, tidak semua keluarga dari kalangan kurang mampu mengetahui cara untuk mendidikan anaknya dengan model homeschooling. Padahal, saat ini sudah ada lembaga yang menfasilitasi hal tersebut. Di Jawa Timur, salah satu lembaga itu bernama Asosiasi Sekolah Rumah Pendidikan Alternatif (Asah Pena). Beberapa waktu lalu, lembaga yang diketuai Daniel itu telah meneken MoU (memorandum of understanding) dengan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah-Depdiknas. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut Daniel, Dirjen PLS menyisihkan 10 persen anggaran mereka untuk digunakan membantu program Asah Pena. Sasarannya adalah program yang membidik pendidikan anak, terutama mereka yang datang dari ekonomi lemah. Misalnya, anak-anak yang mengalami drop out (DO) di suatu daerah akan diberikan bantuan lewat model pembelajaran sekolah rumah. "Kegiatan belajar itu bisa dilaksanakan dengan berkelompok," terangnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Daniel, yang juga ketua Asah Pena, menekankan bahwa homescooling tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga berduit. "Justru prioritas kami nantinya membantu untuk menuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar," lanjutnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Asah Pena juga akan membantu memfasilitasi mereka yang memilih homescooling untuk didaftarkan sebagai komunitas belajar pendidikan non formal. Dengan demikian, pesertanya bisa mengikuti ujian nasional kesetaraan paket A (setara SD), paket B (setara SMP), dan paket C (setara SMA). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam Asah Pena juga berkumpul para guru dan mahasiswa yang siap membantu. Pasalnya, saat ini banyak yang masih salah menafsirkan homeschooling. Meskipun belajar di rumah, namun esensi pendidikan tetap sama. "Mereka harus mengacu pada kurikulum standar nasional. Ini mungkin yang masih harus ditekankan pada masyarakat," tegasnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Asah Pena sendiri telah berdiri sejak 4 Mei 2006 di kantor Depdiknas Jakarta. Asosiasi ini membidani dan mengakomodasikan berbagai kegiatan pendidikan di tanah air oleh beberapa tokoh dan praktisi pendidikan&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-4047966533703902606?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/4047966533703902606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=4047966533703902606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4047966533703902606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4047966533703902606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/model-pendidikan-luar-sekolah-hasil.html' title='Model Pendidikan Luar Sekolah hasil Pemikiran Asah Pena'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/Rk_WLr9UZuI/AAAAAAAAABQ/iPqpVkGnsBo/s72-c/rose.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-4302190750943669254</id><published>2007-05-19T19:46:00.000-07:00</published><updated>2007-06-03T22:14:37.578-07:00</updated><title type='text'>Nasib Studi Islam di Perguruan Tinggi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Kampus-kampus Islam harusnya berpijak kepada keilmuan Islam dan menjadi yang terbaik.  &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="left"&gt;Pada hari-hari ini, seperti biasa menyongsong tahun ajaran baru, banyak orang tua dan juga siswa yang sibuk bertanya, kemana akan melanjutkan kuliah? Banyak kampus sudah memasang iklan di media massa,  mempromosikan program studi di kampus masing-masing.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seperti biasa, program studi Islam di berbagai perguruan tinggi Islam pun mulai menyiapkan diri untuk menggaet dan menerima mahasiswa baru. Menteri Agama RI belum lama ini menyampaikan, bahwa untuk saat ini, perubahan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) distop dulu. Sekarang,  hanya ada  UIN di seluruh Indonesia. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menteri Agama khawatir, pembukaan UIN akan semakin meminggirkan program studi Islam di kampus tersebut, sebagaimana yang terjadi selama ini. Sebab, bukan rahasia lagi, para mahasiswa  dan orang tuanya, lebih banyak yang berminat memasuki program-program studi umum yang dibayangkan akan lebih menjamin masa depan&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di sejumlah universitas Islam, orang tua rela membayar uang masuk ratusan juta rupiah, agar anaknya bisa diterima di Fakultas Kedokteran. Sementara, sangat sedikit yang berminat masuk ke fakultas/jurusan Tarbiyah, Ushuluddin, Syariah, atau Dakwah, meskipun biaya pendidikan di situ sangat murah dan bahkan ada yang digratiskan. Tentu tidak sulit memahami masalah ini. Kuliyah di kedokteran dianggap lebih menjamin masa depan, lebih bergengsi, dibandingkan kuliah di fakultas dakwah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kondisi seperti ini berlangsung sejak dulu. Apa yang terjadi kemudian adalah fakta bahwa banyak yang mengambil program studi Islam adalah anak-anak yang kondisi intelektual dan ekonominya pas-pasan. Banyak yang tidak terlalu bersemangat untuk mengambil studi Islam. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai praktisi  pendidikan Islam. Anak-anak pinter di SMA hampir tidak ada yang bercita-cita menjadi guru agama, meskipun meraka adalah para aktivis Islam di sekolahnya, atau meskipun orang tuanya adalah tokoh agama. Ringkasnya, hingga kini, studi Islam masih belum menarik minat banyak mahasiswa dan orang tua yang dikaruniai kelebihan akal dan harta. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masalah ini sudah berlangsung berpuluh tahun dan belum banyak berubah. Tidak bisa tidak, umat Islam harus memikirkan masalah ini dengan serius dan mencarikan jalan keluarnya. Dalam iklim materialisme yang mendominasi masyarakat, memang tidak mudah untuk menawarkan program studi Islam yang menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan orientasi akhirat. Pondok Pesantren yang dulu hanya mengandalkan pendidikan agama ‘non-ijazah negeri’ – untuk menjaga keikhlasan dalam menuntut ilmu – mulai banyak yang berkompromi dengan kurikulum sekolah negeri agar bisa mendapatkan ijazah. Sebab, ijazah itulah yang dibutuhkan untuk mencari kerja. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk membenani masalah ini, mau tidak mau, harus dimulai dari kampus Islam itu sendiri. Kampus Islam harus berbenah diri, meningkatkan kualitasnya, dan serius dalam menyelenggarakan program studi Islam.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tidak boleh ada yang asal-asalan membuat program studi Islam, apalagi melakukan jual beli gelar. Kampus Islam harus berpijak kepada keilmuan Islam dan menerapkannya dalam kurikulum dan sistem pendidikannya. Program studi Islam haruslah menjadi yang terbaik. Para dosennya seharusnya merupakan dosen-dosen terbaik dan bersungguh-sungguh dalam mengajar. Tentu saja, kampus itu harus menyediakan imbalan yang memadai untuk dosen yang baik. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di berbagai kampus Islam, masih ada yang honor dosennya sekitar Rp 40 ribu sekali datang, atau yang lebih rendah dari itu. Jumlah itu pun masih dipotong transport. Dengan honor seperti itu, tentulah sulit bagi dosen untuk menekuni bidangnya, membeli buku-buku yang diperlukan, dan membuat makalah-makalah yang berkualitas. Alasan yang diberikan, honor kecil,  karena memang SPP murah dan jumlah mahasiswa sedikit. SPP murah, karena minat untuk belajar Islam kurang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadilah semacam lingkaran setan.  Bagaimana memotong lingkaran ini? Caranya, pertama, umat Islam harus turun tangan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Orang-orang yang berkelebihan rizki perlu menginfakkanhartanya untuk membantu kesejahteraan guru dan dosen.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mereka perlu disadarkan, bahwa masalah studi Islam adalah masalah mendasar yang harus ditangani dengan baik. Pendidikan Islam di perguruan tinggi  harus menjadi prioritas pembenahan umat, sebab dari kampus inilah diharapkan lahir sarjana, cendekiawan, atau ulama yang diharapkan akan menjadi ‘bintang’ bagi masyarakatnya. Kedua, anak-anak Muslim yang memiliki kecerdasan tinggi perlu didorong untuk mengambil program studi Islam. Jika mereka sudah mengambil program-program studi ilmu-ilmu umum, maka mereka juga perlu mengambil kuliah dalam studi Islam, sehingga mereka menguasai ilmu-ilmu keagamaan dengan baik, sebagaimana program profesi mereka. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam kaitan inilah, seyogyanya, kampus-kampus umum sudah harus mulai berbenah diri untuk membuka program studi Islam. Saat ini kampus-kampus umum mulai berlomba-lomba membuka program studi Ekonomi Syariah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tetapi, motivasi yang dipromosikan adalah, bahwa alumni program studi itu akan mudah untuk mencari kerja di luar, karena kini banyak insitusi ekonomi yang membuka layanan syariah. Sebuah perguruan tinggi terkenal di Jakarta yang menyelenggarakan program studi Islam dan Ekonomi Syariah membuat brosur yang menyebutkan, bahwa “sebagian besar alumninya telah terserap di beberapa instansi baik pemerintah maupun swasta.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tentu saja, ini hal yang baik. Tetapi, jika niat sudah keliru – mencari ilmu bukan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah – maka bukan tidak mungkin, akan terjadi penyimpangan dalam aplikasinya di lapangan nanti.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ekonomi syariah adalah manifestasi dari pelaksanaan aqidah Islam, dan program ekonomi syariah harus dilandasi dengan semangat iman dan kecintaan kepada syariah; bukan karena di situ ada keuntungan materi yang besar untuk mengeruk keuntungan. Jika motivasi ini yang digunakan, maka tidak ada bedanya dengan kaum kapitalis yang saat ini juga berlomba-lomba menjalankan ekonomi syariah karena di situ ada keuntungan materi, seperti yang dilakukan sejumlah bank asing dan negara seperti Singapura. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika satu kampus dibuat untuk sekedar mencetak para pekerja yang akan mengisi pos-pos kerja, maka kampus telah berfungsi sebagai satu industri. Padahal, pendidikan dalam Islam adalah satu upaya pembentukan manusia yang beradab yang menguasai ilmu-ilmu fardhu ain dengan baik dan memiliki satu keahlian untuk bekerja. Manusia yang beradab inilah tujuan yang utama dari pendidikan Islam. Kampus-kampus Islam yang utama dan pertama haruslah menekankan masalah ini. Dari mana hal ini dimulai? Tentu harus dimulai dari pimpinan dan dosen-dosen di kampus.  Adalah sangat sulit kita berharap akan lahir sarjana yang beradab, jika dosennya sendiri tidak beradab. Akan sulit melahirkan sarjana yang mencintai ilmu dan kebenaran jika dosen-dosennya sendiri tidak memiliki tradisi ilmu yang baik dan tidak peduli dengan soal benar dan salah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pada Senin, 16 April 2007 lalu, saya mengisi workshop dakwah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta, yang diikuti para mahasiswa fakultas tersebut. Kepada para mahasiswa yang hadir, saya menyampaikan pentingnya ada gerakan dakwah yang serius yang dimulai dari kampus itu sendiri. Sebelum terjun melakukan dakwah di masyarakat, sudah seyogyanya, para mahasiswa berdakwah ke dalam kampusnya sendiri. Para mahasiswa tidak boleh berdiam diri terhadap segala kemunkaran yang terjadi di dalam kampus, termasuk dan terutama adalah kemunkaran dalam bidang keilmuan. Adalah aneh, jika segala bentuk kemunkaran keilmuan yang merusak Islam dibiarkan berkembang atas nama kebebasan ilmiah dan kebebasan berpendapat. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya baru saja menerima kiriman Jurnal JUSTISIA Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25 tahun XI 2004. Sampul jurnal ini memuat tulisan yang membuat mata membelalak: “Indahnya Kawin Sesama Jenis”, dengan latar belakang gambar orang-orang gay sedang berpose.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lama saya cermati sampul jurnal terbitan Fakultas Syariah IAIN Semarang ini? Apakah ini bukan hal yang luar biasa? Mengapa pimpinan  kampus tenang-tenang saja?  Isi artikel jurnal ini sudah diterbitkan dalam sebuah dengan judul yang sama dengan judul sampul jurnal tersebut. Saya bertanya kepada dosen di salah satu kampus di Semarang, apakah penerbitan jurnal dan buku itu tidak menjadi isu besar di Semarang? Dijawab, bahwa hal itu dianggap sebagai bagian dari kebebasan ilmiah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seperti pernah kita bahas dalam salah satu CAP, dalam buku yang wajah sampulnya sama dengan  wajah sampul Jurnal Justisia edisi tersebut, ditutup dengan satu Catatan Penutup berjudul: “Homoseksualitas dan Pernikahan Gay: Suara dari IAIN”. Di bagian inilah ditulis pengantar redaksi Jurnal Justisia yang menyatakan: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan yang kuat bagi siapa pun dengan dalih apa pun untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kita patut merenungkan, apakah ungkapan seperti ini juga merupakan bagian dari kebebasan ilmiah yang dikembangkan di kampus tersebut? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kepada para mahasiswa dan beberapa dosen di Fakultas Dakwah UIN Jakarta, saya secara terbuka menyampaikan harapan, bahwa sebagai orang yang berada di lapangan dakwah, saya sangat prihatin dengan aktivitas sejumlah dosen UIN Jakarta yang tak henti-hentinya menyebarkan paham Pluralisme Agama dan bahkan ada yang menjadi penghulu swasta sejumlah perkawinan beda agama. Apakah hal-hal seperti itu juga dikatakan bagian dari kebebasan ilmiah? Meskipun yang melakukan itu hanya beberapa gelintir dosen, tetapi karena mereka menyebut dirinya sebagai dosen di perguruan tinggi tertentu, maka secara otomatis institusi itu juga terbawa-bawa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apalagi, mereka memang sengaja membawa-bawa nama kampus mereka dalam beraktivitas. Kita berharap, pimpinan kampus itu melakukan tindakan pro-aktif untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sudah saatnya, pimpinan kampus dan para dosen di kampus Islam mulai bersungguh-sungguh membangun kinerja dan citra kampus yang benar-benar Islami. Dari situlah kita berharap, para siswa yang cerdas akan tertarik dan bangga sebagai mahasiswa dalam program studi Islam. Mereka tidak akan merasa rendah diri sebagai mahasiswa program studi Islam. Itu semua hanya mungkin dilakukan jika tradisi ilmu dalam Islam diterapkan dengan baik, baik oleh dosen maupun oleh mahasiswa. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Disamping UIN/IAIN/STAIN, kita saat ini juga berharap pada sejumlah lembaga pendidikan Islam yang sudah bertahun-tahun menyelenggarakan studi Islam pada tingkat Perguruan Tinggi, kampus-kampus Islam seperti; Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor Ponorogo, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Sekolah Tinggi Agama Islam Lukmanul Hakim Hidayatullah Surabaya, dan sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kampus-kampus Islam tersebut sekarang sedang secara serius melakukan pembenahan dan peningkatan kualitas mutu dosen dan mahasiswanya. Berdasarkan dialog dengan pimpinan lembaga-lembaga pendidikan tinggi tersebut, mereka memiliki semangat dan kesungguhan untuk memperbaiki kampusnya masing-masing. STID Mohammad Natsir, misalnya, disamping memberikan beasiswa untuk para calon dai, juga mulai menerapkan standar pengajaran dalam bahasa Arab. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Para tokoh Islam perlu benar-benar memahami, bahwa bidang Studi Islam di Perguruan Tinggi, saat ini sedang menjadi ajang perebutan besar antara Islam dengan Barat. Semakin berjubelnya alumni studi Islam dari Barat di kampus-kampus Islam saat ini, suka atau tidak suka, telah membawa dampak besar terhadap kurikulum dan corak pemikiran Islam di perguruan tinggi dan di masyarakat. Pengaruh itu pun kini sudah mulai terasa sangat kuat di institusi-institusi keagamaan, baik swasta maupun pemerintah. Sekitar lima tahun lagi, jika tidak ada arus tandingan, maka pengaruh itu akan merembet ke masjid-masjid atau majlis-majlis taklim. Jika kampus Islam tertentu&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;merelakan dirinya menjadi satelit dari pemikiran dan peradaban Barat, maka yang rugi adalah kampus itu sendiri, sebab masyarakat Muslim yang sadar akan agamanya, akan enggan menengok kampus itu dan enggan bekerjasama dengan alumni-alumni kampus tersebut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Inilah tantangan dakwah besar dalam bidang pendidikan tinggi Islam yang harus segera dijawab oleh umat Islam Indonesia. Kita tidak hanya butuh sarjana komputer Muslim yang handal atau  dokter Muslim yang handal, tetapi juga dosen agama Islam yang handal, guru agama Islam yang handal, khatib Jumat yang handal, wartawan Muslim yang handal, mubalig yang handal, dan sebagainya. Semua itu memerlukan tenaga pengajar yang handal dan mahasiswa yang berkualitas. Tetapi, semua harus dilandasi dengan kerja keras dan keikhlasan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Insyaallah, kita belum terlambat untuk berbuat!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-4302190750943669254?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/4302190750943669254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=4302190750943669254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4302190750943669254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/4302190750943669254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/nasib-studi-islam-di-perguruan-tinggi.html' title='Nasib Studi Islam di Perguruan Tinggi'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-3055543246628143118</id><published>2007-05-19T19:32:00.000-07:00</published><updated>2007-05-19T19:40:55.797-07:00</updated><title type='text'>Basmi Kendala Bahasa</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span&gt;Masalah terbesar bagi orang yang sering bepergian ke luar negeri adalah keterbatasan bahasa.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span&gt;asalah terbesar bagi orang yang sering bepergian ke luar negeri adalah keterbatasan bahasa. Selama ini, bahasa inggris dianggap sebagai jembatan paling kuat. Sayang, tidak semua orang menguasai bahasa tersebut. Termasuk masyarakat kita.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menyewa penerjemah untuk dibawa ke mana-mana, mahal. Belajar multibahasa akan membutuhkan waktu yang lama. Jadi bawa saja Phraselator P2. Gadget buatan Voxtec International tersebut, bisa menjadi penerjemah setia. Alat itu bisa menerjemahkan berbagai bahasa dari atau menjadi bahasa inggris.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Awalnya, Phraselator P2 dibuat untuk kebutuhan tentara Amerika Serikat. Tujuannya mengurangi kendala bahasa saat bertugas ke berbagai negara. Kini, alat yang berbentuk mirip PDA tersebut, bisa digunakan siapa saja.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Di dalamnya terdapat speaker dan mikrofon. Kita bisa langsung mendengarkan kata-kata hasil terjemahan setelah berbicara melalui mikrofon. Bisa memakai suara perempuan atau laki-laki. Berbeda dengan translator lain, Phraselator tidak perlu dilatih untuk mengenali suara tertentu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kita juga bisa merekam suara dari kalimat terjemahan ke dalam SD Card berkapasitas hingga 1 GB. Jika sulit mengatakannya, tak perlu khawatir. Layar LCD di bagian depan menampilkan beberapa pilihan kata atau kalimat untuk diterjemahkan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan ingat, alat ini dirancang untuk kebutuhan para tentara. Artinya, memiliki struktur fisik kuat dan tahan terhadap debu, pasir, dan air.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kekuatannya ditunjang oleh baterai lithium yang dapat bertahan hingga 20 jam. Jika kehabisan di tengah jalan, bisa di-backup dengan baterai AA. Sayang, harga yang dipatok dianggap terlalu mahal. Yaitu sebesar USD 2.000 atau sekitar Rp 17,5 juta. Tampaknya, orang lebih memilih untuk memakai bahasa tubuh saja jika tidak mengerti bahasanya&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-3055543246628143118?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/3055543246628143118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=3055543246628143118' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3055543246628143118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3055543246628143118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/basmi-kendala-bahasa.html' title='Basmi Kendala Bahasa'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-1592183151364979396</id><published>2007-05-16T23:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:49.067-08:00</updated><title type='text'>Kadar Setia untuk Kaum Hawa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmOwj79UZwI/AAAAAAAAABg/cqIqSfrINO8/s1600-h/yamaha-m1-vale-rossi.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmOwj79UZwI/AAAAAAAAABg/cqIqSfrINO8/s400/yamaha-m1-vale-rossi.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072091736786102018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Mulut boleh aja terus melontarkan kata cinta untuk si dia. Mata boleh aja nggak jelalatan di depannya. Tapi hati? Benarkah cuma ada dia seorang di sana? Nanti dulu. Meski cuma terdiri dari lima huruf, S-E-T-I-A&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mulut boleh aja terus melontarkan kata cinta untuk si dia. Mata boleh aja nggak jelalatan di depannya. Tapi hati? Benarkah cuma ada dia seorang di sana? Nanti dulu. Meski cuma terdiri dari lima huruf, S-E-T-I-A as known as nggak selingkuh alias bertahan pada satu cinta, susah banget dilakukan. Mengapa? Banyak cowok cakep bertebaran di muka bumi ini. Mana bisa semudah itu menghindari godaan. Ya ya ya. Daripada bingung, mending ukur tingkat kesetianmu. (oxy)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jawab dengan "Ya", "Tidak", "Sedikit Tergiur"&lt;br/&gt;1. Cowok keren yang satu bimbel sama kamu makin lama makin ganteng aja. Apalagi dia sering tersenyum ke kamu, menunjukkan deretan giginya yang indah. Tiba-tiba, kamu jatuh hati padanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2. Secret admirer yang sering telepon ngajak ketemuan. Kamu langsung bilang iya. Who knows, dia lebih baik daripada pangeranmu saat ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3. Mantan pacarmu jadian lagi. Entah kenapa, tiba-tiba kamu menyesal telah menyerahkan dia pada cewek lain. Padahal, saat ini kamu juga udah punya pacar baru!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4. Sahabatmu sering cerita tentang cowoknya yang super romantis. Respon kamu? Iri pada sahabat dan sebal sama cowokmu karena nggak pernah bisa romantis.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;5. Di Friendster, kamu sengaja memilih account single. Cowokmu kebakaran jenggot? No problem! Friendster kan media promosi. Siapa tahu, kamu bisa ketemu jodohmu yang sebenarnya. Sebelum janur kuning melengkung, kamu masih milik umum.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;6. Saat pulang kampung, kamu ketemu sama teman main semasa kecil. Duh, tambah cakep aja! Makanya, kamu nggak bisa nolak saat dia ngajak jalan-jalan selama satu minggu penuh. Mumpung yang asli lagi jauh! He he.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;7. Nggak masalah bagi kamu kalau harus mutusin dia saat ini juga. Asalkan, ada Tobey Maguire atau minimal Moreno Suprapto di depanmu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;8. Selama satu bulan, cowokmu harus praktik kuliah di Jakarta. Daripada menderita pacaran long distance, mending putus aja deh! Cowok masih banyak. Siapa tahu dapat yang baru!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;9. Kamu dikenalin sama abangnya temanmu. Orangnya lumayan sih. Makanya, pas ditanya udah punya cowok apa belum, kamu jawab aja masih jomblo.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hitung skormu:&lt;br/&gt;Kalikan jawaban "Ya" dengan angka 3. "Tidak" dengan angka 1. "Sedikit tergiur" dengan angka 2.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;10-16 Kekasih Yang Setia&lt;br/&gt;Standing ovation memang pantas buat kamu. Benar-benar cewek setia. Biar digoda cowok seganteng apapun, di tempat manapun, dan dalam situasi apapun, kamu tetap tegar. Sudah yakin dan mantap betul ya sama si dia? Segera tunjukkan hasil Quiz ini padanya. Dijamin, dia bakal makin cinta sama kamu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;17-23 KTKG (Kadang Tergiur Kadang Enggak)&lt;br/&gt;Bisa dibilang, cintamu adalah cinta Bunglon. Bisa fleksibel sesuai keadaan. Jika di depan matamu ada cowok keren, ya kamu nggak menolak. Tapi terkadang, kamu juga sadar, kalau udah punya gandengan. Bukan sebuah masalah besar. Asal jangan keterusan. Kasihan cowokmu yang mungkin aja masuk golongan setia!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;24-30 Bakat Tukang Selingkuh&lt;br/&gt;One hit wonder! Jatuh cinta sama seseorang, tapi nggak lama kemudian jatuh ke pelukan orang lain. Wah..wah..bahaya nih! Kayaknya kamu belum siap pacaran deh! Kamu lebih cocok punya gebetan, dan nggak melangkah lebih jauh. Karena punya pacar, berarti harus menjaga diri dari banyak godaan di sekitar kita. Oke girls?&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-1592183151364979396?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/1592183151364979396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=1592183151364979396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/1592183151364979396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/1592183151364979396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/kadar-setia-untuk-kaum-hawa.html' title='Kadar Setia untuk Kaum Hawa'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RmOwj79UZwI/AAAAAAAAABg/cqIqSfrINO8/s72-c/yamaha-m1-vale-rossi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-7504489055173130085</id><published>2007-05-16T20:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:49.201-08:00</updated><title type='text'>ABOUT EDUCATION</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RkvKC79UZrI/AAAAAAAAAA4/pKbZCOY6AFQ/s1600-h/DSC00515.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RkvKC79UZrI/AAAAAAAAAA4/pKbZCOY6AFQ/s400/DSC00515.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5065364357711685298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Insya Allah akan menjadi pendidik yang baik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;Tetap Perlu Kurikulum&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;HOMESCHOOLING tetap membutuhkan kurikulum. Standarnya mengacu pada kurikulum nasional yang sedang berlaku. Meski demikian, homeschooler tak perlu kaku hanya menerapkan satu kurikulum. "Orang tua boleh memilih kurikulum yang sesuai dengan anaknya," kata Helen Ongko, kepala Morning Star Academy (MSA) yang merupakan komunitas homeschooler di Jakarta dan Surabaya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurutnya, kurikulum diperlukan sebagai panduan bagi anak dalam belajar. Di homeschooling, tidak semua mata pelajaran dalam Kurikulum harus dibebankan kepada anak-anak. Mereka bebas mempelajari apa yang disukai, asalkan tetap mengikuti tata tertib dan disiplin yang telah disepakati bersama orang tua. "Kurikulum dari negara manapun boleh. Sebab, salah satu tujuan homeschooling adalah mengetahui minat anak, kemudian mengarahkannya dengan benar," tegasnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Selain kurikulum, para homeschooler juga harus memikirkan pentingnya bersosialisasi. Seto Mulyadi dari Asosiasi Sekolah Rumah Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Jawa Timur memberikan beberapa alternatif penerapan homeschooling yang bukan individual. Misalnya, homeschooling majemuk yang dilaksanakan dua keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu. Sementara, kegiatan pokok tetap dilaksanakan orang tua masing-masing. "Selain untuk bersosialisasi, para keluarga juga bisa memikirkan kurikulum bersama," tuturnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gabungan beberapa home schooling majemuk juga bisa menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok, dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara ornag tua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Meski demikian, bukan berarti homeschooling tidak sarat dengan kendala. Misalnya homeschooling tunggal. Model ini memiliki tantangan seperti sulitnya memperoleh dukungan atau tempat bertanya, berbagi, dan berbanding keberhasilan. Anak juga terancam kurang tempat sosialisasi untuk mengekspresikan diri sebagai syarat pendewasaan. "Karena itu, orang tua harus melakukan penilaian hasil pendidikan dan mengusahakan penyetaraannya," jelasnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tantangan yang siap menghadang home schooling majemuk adalah kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana dan fasilitas pembelajaran, serta kebutuhan akan adanya ahli bidang tertentu. Selain itu, anak-anak juga harus menyesuaikan atau menerima lingkungan lainnya dengan menerima perbedaan-perbedaan sebagai proses pembentukan jati diri. Karena itu, orang tua masing-masing penyelenggara homeschooling harus menyelenggarakan sendiri penyetaraannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk komunitas homeschooling, tantangannya mirip dengan model majemuk. Anak-anak dengan keahlian atau kegiatan khusus harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan lainnya dan menerima perbedaan-perbedaan sebagai proses pembentukan jati diri. Dalam model ini, orang tua harus tetap tetap ada untuk mendampingi. (ara/kit)&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-7504489055173130085?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/7504489055173130085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=7504489055173130085' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/7504489055173130085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/7504489055173130085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/about-education.html' title='ABOUT EDUCATION'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RkvKC79UZrI/AAAAAAAAAA4/pKbZCOY6AFQ/s72-c/DSC00515.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-6904778083311735114</id><published>2007-05-16T20:11:00.000-07:00</published><updated>2007-05-16T20:14:32.587-07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN KE DEPAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Memecahkan Sembilan Persoalan Pendidikan melalui &lt;br/&gt;Grand Design Bikinan Jatim&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kurikulum Sesuai Karakter Daerah &lt;br/&gt;Jawa Timur merupakan provinsi yang pertama kali menyusun grand desain pendidikan untuk jangka waktu hingga 2025. Berbagai problem pendidikan di telah dipetakan. Serangkaian solusi ditawarkan untuk mengembangkan arah pendidikan di Jawa Timur. &lt;br/&gt;----------------------------&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur melihat ada tiga persoalan pokok pendidikan yang mendesak untuk di pecahkan. Pertama, angka buta aksara yang mencapai 4.519.681 orang. Rinciannya, laki-laki 1.409.316 dan perempuan 3. 110.365. Jumlah itu menempatkan Jatim sebagai provinsi yang memiliki penduduk buta aksara terbanyak di Indonesia&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Permasalahan kedua adalah belum sesuainya kualitas guru dengan tuntutan UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Terkahir, belum meratanya peningkatan mutu pendidikan. Namun, sejatinya ada sembilan persoalan yang dibahas dalam grand design pendidikan Jawa Timur (selebihnya lihat grafis). Semua telah disosialisasikan kepada para kepala dinas pendidikan kabupaten/kota se-Jatim di Batu, Malang beberapa waktu lalu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berbagai masukan dari kepala dinas pendidikan ditampung waktu itu. Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebagai penyusun grand design pendidikan merumuskan kembali konsep plus masukan yang diberikan. Hasilnya disosialisasikan lagi ketika Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) melalui teleconference yang dilakukan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama sepuluh bupati kota/kabupaten Jawa Timur pada 2 mei lalu. Di antaranya, Surabaya, Lamongan, Gresik, Malang, Batu, Probolinggo, Pasuruan, dan Situbondo.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Grand design pendidikan Jawa Timur dibagi menjadi empat periodisasi panjang dalam penyusunan setiap program. Pertama, periodisasi 2006-2010 dipioritaskan untuk peningkatan kapasitas dan modernisasi. Kedua, periode 2011-2015 untuk pemantapan dan implementasi semua program untuk jenjang pendidikan atas dan sederajat. Ketiga, periode 2016-2020 diutamakan untuk daya saing regional. Terakhir, periode 2021-2025 semua program pendidikan tuntas untuk semua jenjang pendidikan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kepala dinas P dan K Jatim Rasiyo mengakui bahwa implementasi program pendidikan di setiap kota/kabupaten memang tidak sama. Semua tergantung karakteristik dan kondisi riil masing-masing daerah. Karena itu, keberadaan grand design diharapkan bisa memberi pedoman maupun referensi dalam menyusun rencana strategis (renstra) pendidikan di masing-masing wilayah. "Dengan begitu, arah kebijakan tidak melenceng dari grand design yang disusun," terang Rasiyo dalam telekonference itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pendidikan Sepanjang Hayat&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam launching grand design pendidikan beberapa waktu lalu, Dinas P dan K memaparkan kondisi riil pendidikan di Jatim. Persoalan pertama yang diangkat adalah buta aksara di daerah pinggiran atau pesisir yang termasuk tinggi. Bersama Unesa, Dinas P dan K telah menggagas program keaksaraan fungsional. Yakni, dengan pengembangan kurikulum yang dikaitkan dengan ketrampilan yang dikuasai warga setempat. "Kurikulum yang kami disusun disesuaikan dengan kebutuhan warga," ujar Mochtar Basuki, Waka Dinas P dan K yang mendampingi Rasiyo waktu itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Program keaksaraan yang diterapkan merupakan pendidikan sepanjang hayat (longlife education). Dengan konsep ini, para warga belajar dengan mempertimbangkan kemauan (desire), kecakapan (ability), sarana dan infrastruktur (means), serta kebutuhan (needs). "Sedangkan pendekatan yang akan dipilih disesuaikan dengan kondisi warga belajar setempat," ujarnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dia mencontohkan, pembelajaran yang diterapkan di Surabaya berbeda dengan wilayah lain. Sebab, wilayah Surabaya lebih berciri urban. Karena itu, pendidikan akan ditekankan berdasarkan pembinaan jiwa kewirausahaan. Dengan usaha tersebut, tingkat buta aksara dapat ditekan pada tahun 2009.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Masalah kedua adalah problem sertifikasi guru. Dikatakan Rasiyo, angin segar sempat berembus ketika santer terdengar akan segera disahkan Permendiknas. Namun, hingga kini kabar itu entah menguap kemana. Padahal, kualifikasi guru di Jawa Timur masih rendah. "Sertifikasi itu menggenjot para guru untuk meningkatkan kualifikasinya," terangnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk diketahui, saat ini baru 10 persen guru di Jatim yang bersertifikasi S-1. karena itu, Dinas P dan K Jatim menargetkan 40 persen guru di Jatim sudah bergelar S-1 pada tahun 2009. Sehingga, tahun 2025 sesuai dengan target akhir grand design pendidikan, semua guru harus sudah bergelar S1.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk mengejar target tersebut, Dinas P dan K siap memberikan pelatihan terhadap para guru di daerah. Untuk operasional pelatihan, Dinas P dan K telah memasrahkan ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dijelaskan Martadi MSN, salah satu konseptor grand design pendidikan dari Unesa, Unesa siap mendatangi guru-guru di daerah untuk memberikan pelatihan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pelatihan itu, kata Martadi, terkait dengan peningkatan kualifikasi guru. Pasalnya, lanjut Martadi, kesempatan guru daerah untuk mengikuti seminar atau pelatihan sebagai poin plus sertifikasi guru terbilang minim. "Karena itu, kami jemput bola dengan memberikan kelas jarak jauh ke sana," terangnya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Problem pokok pendidikan ketiga ialah belum meratanya tingkat pendidikan di Jatim. Masih ada beberapa daerah yang progesitas pendidikannya jauh tertinggal dengan kota-kota seperti, Surbaya, Malang, dan Sidoarjo. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dikatakan Rasiyo, peningkatan pendidikan dapat dilihat kualitas output. Sedangkan aspek yang dominan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah peran guru, penerapan manajemen, fasilitas pendidikan, kurikulum yang diberlakukan, serta sistem pendidikan yang digunakan. "Karena itu, upaya strategis seperti peningkatan kompetensi guru mutlak diperlukan," ujarnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dia menambahkan, upaya peningkatan mutu itu harus didukung dengan langkah ketiga berupa penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan harus diiringi dengan kebijakan pemerintah yang efektif dan akuntabel. Karena itu, Dinas P dan K akan berusaha merealisasikan pembangunan pendidikan di Jawa Timur yang bersih dan bebas dari KKN. "Caranya dengan menunjukkan etos kerja serta disiplin kerja yang tinggi," tuturnya. (titik andriyani)&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-6904778083311735114?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/6904778083311735114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=6904778083311735114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/6904778083311735114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/6904778083311735114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/pendidikan-ke-depan.html' title='PENDIDIKAN KE DEPAN'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2049398502533599319.post-3325746501089969</id><published>2007-05-14T21:30:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T23:55:49.389-08:00</updated><title type='text'>peneliti yang menggunakan wacana Theon L. van Dijk</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RklLP8oU08I/AAAAAAAAAAk/qKiuYyhYQxo/s1600-h/rahman.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RklLP8oU08I/AAAAAAAAAAk/qKiuYyhYQxo/s400/rahman.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064661993300218818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;II  Teori elemen wacana Theon.L.Van Dijk&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Teori yang digunakan van Dijk ini kerap disebut dengan “kognisi sosial” istilah itu sebenarnya diambil dari pendekatan lapangan psikologi sosial terutama untuk menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks. Nama pendekatan seperti tidak lepas dari karakteristik yang diperkenalkan oleh Van Dijk &lt;br/&gt;Ia melihat suatu wacana terdiri atas berbagai struktur/tingkatan, yang masing-masing bagian saling mendukung. Van Dijk membaginya menjadi tiga tingkatan:&lt;br/&gt;a) Struktur makro. Ini merupakan makna global/umum suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik dari suatu teks&lt;br/&gt;b) Superstruktur adalah kerangka suatu teks. Bagaimana struktur dan elemen itu disusun dalam suatu teks secara utuh&lt;br/&gt;c) Struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dengan menganalisis kata, kalimat, proposisi, anak kalimat yang dipakai dan sebagainya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;Tabel elemen wacana Van Dijk&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Struktur Wacana Hal Yang Diamati Elemen&lt;br/&gt;Struktur Makro Tematik&lt;br/&gt;(Apa yang dikatakan) Topik&lt;br/&gt;Superstruktur Skematik&lt;br/&gt;(Bagaimana pendapat disusun dan dirangkai) Skema&lt;br/&gt;Struktur Mikro Semantik&lt;br/&gt;(Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita) Latar, detail, maksud, praanggapan, nominalisasi&lt;br/&gt;Struktur Mikro Sintaksis&lt;br/&gt;(Bagaimana pendapat disampaikan) Bentuk aklimat, koherensi, kata ganti&lt;br/&gt;Struktur Mikro Stilistik&lt;br/&gt;(Pilihan kata apa yang dipakai) Leksikon&lt;br/&gt;Struktur Mikro Retoris&lt;br/&gt;(Bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan) Grafis, metafora Ekspresi&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Dalam pandangan Van Dijk, segala teks bisa dianalisis dengan menggunakan elemen tersebut. Meski terdiri atas berbagai elemen, namun semua elemen itu merupakan suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya.  Untu memperoleh gambaran ihwal elemen-elemen struktur wacana tersebut, berikut akan dijelaskan singkat tentang elemen tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;A. Tematik&lt;br/&gt;Secara harfiah berarti suatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan yang berasal dari kata Yunani tithenai, kata ini juga sering disandingkan dengan kata topik yang dari kata Yunani topoi yang secara teoritis berarti informasi yang paling penting dari suatu wacana.&lt;br/&gt;Theon.L.Van Dijk mendefinisikan topik sebagai struktur makro dari suatu wacana, dari topik kita akan dapat mengetahui ,masalah dan tindakan yang diambil, atau pendapat dapat diamati pada struktur makro dari suatu wacana. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;B. Skematik &lt;br/&gt;Kalau topik menunjukkan makna umum dari suatu wacana, maka struktur skematis atau superstruktur menggambarkan bentuk umum dari suatu teks.  Dengan pembagian umum seperti pendahuluan,, isi, kesimpulan, pemecahan masalah, penutup dan sebagainya. Dengan kata lain, struktur skematik memberi tekanan pada bagian mana yang didahulukan dan bagian mana yang bisa dikemudiankan sebagai strategi untuk menyembunyikan informasi penting.&lt;br/&gt;Dalam konteks penyajian berita, meskipun mempunyai bentuk dan skema beragam, berita umumnya secara hipottik mempunyai dua kategori skema besar yakni summary yang umumnya ditandai dengan dua elemen yakni yang pertama judul dan lead (teras berita) elemen ini dipandang paling penting. Yang kedua yaitu story yakni isi berita secara keseluruhan.  Menurut Van Dijk arti penting dari skematik adalah strategi wartawan untuk mendukung tertentu yang ingin disampaikan dengan menyusun bagian-bagian dengan urutan-urutan tertentu. Skematik memberikan tekanan yang mana didahulukan, dan bagian mana yang bisa dikemudiankan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;C. Semantik&lt;br/&gt;Yang penting dalam analisis wacana adalah makna yang ditunjukkan oleh struktur teks. Dalam pengertian umum, semantik adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Kalau studi linguistik konvensional, makna kata dihubungkan dengan arti yang terdapat di kamus, sedang dalam analisis wacana, makna kata adalah praktik yang ingin dikomunikasikan sebagai suatu strategi. Dengan kata lain semantik tidak hanya mendefinisikan bagian mana yang penting dari struktur wacana, akan tetapi menggiring ke arah tertentu dari suatu peristiwa.  Semantik dalam skema Van Dijk dikategorikan sebagai makna lokal, yakni makna yang muncul dari hubungan antar kalimat, antar proposisi yang membangun makna tertentu dalam suatu bangunan teks.&lt;br/&gt;Semua strategi semantik selalu dimaksudkan untuk menggambarkan diri sendiri atau kelompok sendiri secara positif sebaliknya menggambarkan kelompok lain secara buruk, sehingga menghasilkan makna yang berlawanan. Kebaikan digambarkan dengan detail yang besar, eksplisit, langsung dan jelas. Sebaliknya ketika menggambarkan keburukan disajikan dengan detail pendek, implisit dan samar-samar.&lt;br/&gt;Latar merupakan elemen wacana yang tergabung dalam makna semantik yang dapat menjadi alasan pembenaran gagasan yang diajukan suatu teks. Bentuk lain dari strategi semantik adalah detail yakni elemen wacana detail berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan oleh komunikator. Pengandaian adalah strategi lain yang dapat memberi citra tertentu ketika diterima khalayak. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;D. Sintaksis&lt;br/&gt;Sintaksis merupakan bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase. Strategi untuk menampilkan diri sendiri secara positif dan lawan negatif juga bisa menggunakan sintaksis seperti pada pemakaian kata ganti, aturan tata kata, pemakaian kategori sintaksis yang spesifik, pemakaian kalimat aktif dan pasif.&lt;br/&gt;Pemakaian koherensi dalam level semantik ini adalah pertalian atau jalinan antar kata, proposisi atau kalimat. Dua buah kalimat atau proposisi yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan dengan memakai koherensi.  Bisa juga melalui hubungan sebab akibat dengan melihat kata hubung yang dipakai untuk menghubungkan fakta/proposisi.&lt;br/&gt;Bentuk lain lain adalah dengan melakukan nominalisasi yang dapat memberikan sugesti kepada khalayak adanya generalisasi. Wacana yang hampir sama dengan nominalisasi adalah abstraksi. Strategi pada level sintaksis yang lain adalah dengan menggunakan bentuk kalimat, yang berhubungan dengan cara berpikir logis yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat disini bukan hanya pada persoalan kebenaran teknis tata bahasa, tetapi menentukan makna dari susunan kalimat.&lt;br/&gt;Bisa juga melalui bagaimana proposisi-proposisi diatur dalam satu rangkaian kalimat. Elemen lain yang bisa digunakan adalah kata ganti yang bertujuan untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;E. Stilistik&lt;br/&gt;Pusat perhatian stilistik adalah pada style yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Dengan demikian style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa. &lt;br/&gt;Apa yang disebut gaya bahasa sesungguhnya terdapat dalam segala ragam bahasa, ragam lisan dan ragam tulisan, ragam nonsastra dan ragam sastra. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, ragam kalimat, majas dan citraan, pola rima, matra yang digunakan seorang sastrawan yang terdapat dalam sebuah karya sastra.&lt;br/&gt;Pilihan leksikal jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata-kata. Istilah ini bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang digunakan untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. Pada dasarnya pemilihan leksikal menandakan bagaimana orang melakukan pemilihan kata atau frase atas berbagai kemungkinan kata atau frase yang tersedia.  Sehingga peristiwa sama bisa digambarkan dengan pilihan kata yang berbeda-beda.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;F. Retoris&lt;br/&gt;Strategi dalam level ini retoris di sini adalah gaya yang diungkapkan ketika seorang berbicara atau menulis. Misalnya, dengan pemakaian kata yang berlebihan (hiperbolik), atau bertele-tele. Retoris mempunyai fungsi persuasif, dan berhubungan erat dengan bagaimana pesan itu hendak disampaikan kepada khalayak. Pemakaiaannya, diantaranya dengan menggunakan gaya repetisi (pengulangan), aliterasi (pemakaian kata-kata yang permulaannya sama bunyinya seperti sajak, sebagai suatu strategi untuk menarik perhatian, atau untuk menekan sisi tertentu agar diperhatikan oleh khalayak. &lt;br/&gt;Retoris juga muncul dalam bentuk interaksi, yakni bagaimana komunkator menempatkan dirinya diantara khalayak. Apakah memakai gaya formal, informal atau malah santai yang menunjukkan kesan bagaimana ia menampilkan dirinya.&lt;br/&gt;Strategi lain dalam wacana ini adalah ekspresi, yang bertujuan untuk membantu menonjolkan atau menghilangkan bagian tertentu dari teks yang disampaikan. Dalam suatu wacana, seorang komunikator tidak hanya menyampaikan pesan pokok, tetapi juga kiasan, ungkapan, metafora, yang dimaksud sebagai ornamen atau bumbu suatu teks.&lt;br/&gt;Wacana terakhir yang menjadi strategi dalam level retoris ini adalah dengan menampilkan apa yang disebut visual image. Dalam teks elemen ini ditampilkan dengan penggambaran detail berbagai hal yang ingin ditonjolkan.&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2049398502533599319-3325746501089969?l=rahman-azzam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/feeds/3325746501089969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2049398502533599319&amp;postID=3325746501089969' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3325746501089969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2049398502533599319/posts/default/3325746501089969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rahman-azzam.blogspot.com/2007/05/wacana-theon-lvan-dijk.html' title='peneliti yang menggunakan wacana Theon L. van Dijk'/><author><name>Rahman Reza, Ejaa08</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04222662207269417643</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Fhvjq5P4Aew/RklLP8oU08I/AAAAAAAAAAk/qKiuYyhYQxo/s72-c/rahman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
